Rabu 09 Dec 2015 13:57 WIB

Komentar Soal Islam, Tony Abbott Disamakan dengan Donald Trump

Tony Abbott tampak murung saat memberikan keterangan pers terakhir sebagai perdana menteri Australia, Selasa (15/9).
Foto: abc
Tony Abbott tampak murung saat memberikan keterangan pers terakhir sebagai perdana menteri Australia, Selasa (15/9).

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Partai Buruh Australia menuding bekas perdana menteri Tony Abbott sama dengan bakal calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump, terkait komentar kedua orang ini terkait Islam.

Jika Trump menyatakan akan melarang pendatang Muslim datang ke Amerika, Abbott dalam wawancara dengan kelompok media milik Ruppert Murdoch, Sky News menyatakan Islam perlu melakukan revolusi keagamaan. 

(Baca: Tony Abbott: Islam Perlu Reformasi)

Wawancara Abbott dimuat dalam berita TV Selasa (8/12) malam dan disusul artikel opini yang dimuat di situs kelompok media tersebut hari Rabu (9/12).

Menurut bekas perdana menteri yang terjungkal oleh rivalnya Malcolm Turnbull ini, "Islam tidak pernah mengalami reformasi, pencerahan, dan tidak mengenal konsep pemisahan urusan agama dan negara".

"Semua hal yang tidak pernah terjadi dalam dunia Islam ini, perlu dilakukan sekarang," katanya.

Pernyataan Abbott itu langsung memicu tanggapan. Politisi Partai Buruh Andrew Leigh menyebut pernyataan Abbott itu sebagai hal yang aneh.

"Saya tidak percaya kalau Abbott sekarang mengambil peranan seperti yang dimainkan Donald Trump. Saya kira sekarang orang tidak percaya lagi dialog dengan masyarakat Islam di Australia bisa dipimpin oleh perdana menteri," kata Leigh.

Ed Husic, politisi Partai Buruh lainnya, dan satu-satunya anggota DPR Australia yang beragama Islam menilai pernyataan Abbott ini merupakan bagian dari upaya menjadikan politik Australia senada dengan Donald Trump.

Pemimpin Partai Buruh yang juga pemimpin oposisi Bill Shorten bahkan menyatakan komentar Abbott itu mengandung unsur penghinaan.

"Membuat pernyataan mengenai keunggulan budaya dan agama tertentu sangat tidak produktif. Bahasa penghinaan seperti ini justru merusak upaya kohesi sosial dan saling menghargai dalam masyarakat Australia," kata Shorten.

Ucapan-ucapan senada dengan yang dilontarkan Abbott ini, kata Shorten, berpotensi mengganggu upaya pihak keamanan dalam menjaga keamanan nsional.

Sebelumnya, Trump di AS menyatakan perlunya melarang semua pendatang Muslim ke negara itu karena menurut dia sebagian besar masyarakat Islam benci orang Amerika.

Komentar Trump itu langsung menuai kecaman bahkan dari Dick Cheney yang bekas politisi Partai Republik, yang menyatakan larangan semacam itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dibela oleh Amerika sendiri.

Baca juga: 6 Tokoh Anti-Islam Kontroversial di Dunia

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/2015-12-09/komentar-soal-islam-tony-abbott-disamakan-dengan-donald-trump/1523974
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement