Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Greenpeace Nilai COP21 Tunjukkan Impotensi Internasional

Jumat 11 Dec 2015 14:55 WIB

Rep: C25/ Red: Djibril Muhammad

Greenpeace

Greenpeace

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Conference of Parties (COP) 21 telah digelar beberapa waktu lalu di Paris. Konferensi tersebut diharapkan bisa mencapai kesepakatan tentang perubahan iklim dan pemanasan global. Namun, COP21 dianggap tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.

Kepala Politik Iklim Internasional Greenpeace, Martin Kaiser, menilai apa yang telah dihasilkan para pemimpin dunia di COP21 tidak cukup baik, bagi perubahan iklim dan pemanasan global.

Menurut dia, pertemuan yang melibatkan hampir seluruh pemimpin dunia itu tidak menghasilkan rancangan kesepakatan yang akan mengubah apa-apa, termasuk target pemanasan di bawah 1,5 derajat.

"Saat ini kita sedang menyaksikan impotensi internasional," kata Kaiser, seperti dilansir Greenpeace.org, Kamis (10/12).

Ia mengungkapkan kekecewaan pada sikap para pemimpin dunia, yang dengan mudah mengatakan akan mengatasi perubahan iklim dan pemanasan global dalam 10 atau 15 tahun yang akan datang.

Kaiser menegaskan tindakan yang akan dimulai 10 atau 15 tahun lagi akan terlambat, dan para pemimpin dunia telah menutup kesempatan terbaik untuk menghindari pemanasan global.

Kaiser mengecam para negosiator pertambangan di seluruh dunia, yang dengan waktu 24 jam saja bisa mengubah fakta-fakta lingkungan yang ada, demi mendapatkan pundi-pundi uang.

Hal itu, lanjut Kaiser, banyak terjadi pada mereka yang hendak berinvestasi di bidang pertambangan, seperti batubara, sehingga mengabaikan kondisi lingkungan yang ada.

Ia juga mempertanyakan sikap para pemimpin dunia yang hanya menghubungkan energi terbarukan dengan Afrika, sedangkan energi terbarukan jelas akan mendominasi dan menjadi ketergantungan semua negara.

Menurut Kaiser, COP21 seharusnya melakukan pembahasan penting tentang minyak, batubara dan gas, yang tidak akan bisa lagi diandalkan pada 2050 nanti.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA