Sabtu 26 Dec 2015 08:44 WIB

Ini Cara Rusia Bertahan dari Sanksi AS dan Uni Eropa

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Rusia, Vladimir Putin
Foto: Reuters
Presiden Rusia, Vladimir Putin

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia harus memelihara hubungan perdagangan kuat dengan banyak negara untuk meningkatkan pengembangan dan pertumbuhan ekonomi. Hubungan tersebut akan efektif untuk mengendalikan efek sanksi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa terhadap Rusia.

"Saya sudah mengatakan berkali-kali tanggapan kita terhadap pembatasan eksternal akan datang dalam bentuk perluasan kebebasan bisnis, perlindungan hak milik, membela hak-hak dari setiap orang yang bekerja, dan berbisnis dengan santun," ujarnya seperti dilansir TASS, semalam.

Pada Senin lalu, Dewan Uni Eropa memperpanjang sanksi terhadap sektor keuangan, energi dan pertahanan Rusia hingga setidaknya 31 Juli 2016. Presiden Rusia mendesak ekonom dan pengambil keputusan bisnis untuk merebut kesempatan yang diberikan saat harga minyak rendah untuk mereformasi perekonomian di negara tersebut.

Rusia telah terhantam oleh harga minyak terendah sejak 2004. Dalam 20 bulan terakhir, harga minyak  anjlok hampir 60 persen. Beberapa tahun yang lalu, Rusia dan negara berkembang produsen minyak lainnya menikmati pertumbuhan ekonomi kuat dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) cemerlang saat minyak diperdagangkan 110 dolar AS per barel.

Pada Kamis lalu, West Texas Intermediate (WTI) mengatakan bahwa minyak mentah secara bertahap naik 9 persen dari 36 dolar AS ke 38,10 dolar AS per barel.

Sanksi ganda dan harga minyak rendah membuat resesi Rusia kemungkinan akan berlanjut setidaknya sampai akhir 2016. Putin mengatakan perlu adanya dukungan lebih dari manufaktur lokal dan industri untuk meningkatkan pasar lokal dan ekspor.

Pekan lalu Putin tidak mengenyampingkan beberapa perubahan dalam struktur perusahaan-perusahaan besar. "Pemerintah akan mempertimbangkan keputusan tentang privatisasi," kata Putin.

Industri raksasa seperti Rosneft dan Aeroflot kemungkinan menjadi pertimbangan pertama yang akan diprivatisasi untuk mendapat beberapa miliar dolar AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement