Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

WSJ: AS Sadap Telepon Netanyahu Saat Perundingan Nuklir Iran

Rabu 30 Dec 2015 08:34 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Barack Obama bersalaman dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Oval Office, Gedung Putih, Washington, Senin (9/11). Kedua pemimpin pertama kali bertemu sejak satu tahun lalu.

Presiden Barack Obama bersalaman dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Oval Office, Gedung Putih, Washington, Senin (9/11). Kedua pemimpin pertama kali bertemu sejak satu tahun lalu.

Foto: AP Photo/Andrew Harnik

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) menyadap percakapan telepon antara para pejabat Israel, anggota parlemen AS dan kelompok Amerika-Yahudi pada 2014. Hal itu diungkapkan Wall Street Journal (WSJ), Selasa (29/12).

Sumber WSJ yang merupakan mantan pejabat Gedung Putih meyakini, informasi hasil penyadapan itu bisa untuk melawan kampanye Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap kesepakatan nuklir dengan Iran.

Badan Keamanan Nasional (NSA) mengungkapkan ke Gedung Putih bagaimana Netanyahu dan penasihatnya telah membocorkan rincian negosiasi AS-Iran. Laporan NSA memungkinkan pejabat pemerintahan Obama mengintip upaya Israel mengubah pnedirian Kongres terhadap kesepakatan tersebut.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Ron Dermer digambarkan sebagai pembina kelompok Yahudi-Amerika yang tidak disebutkan namanya. Ia berargumentasi dengan anggota parlemen AS dan para pejabat Israel dilaporkan menekan anggota parlemen untuk menentang kesepakatan itu.

Setelah pengungkapan mantan pekerja NSA, Edward Snowden terkait operasi badan mata-mata, Presiden Barack Obama mengumumkan AS akan mengekang penyadapan para pemimpin dunia yang ramah. Presiden Prancis Francois Hollande dan Kanselir Jerman Angela Merkel ditempatkan dalam daftar terlarang untuk dimata-matai AS. Tapi Obama mempertahankan pemantauan Netanyahu lantaran dianggap mengganggu keamanan nasional.

"Kami tidak melakukan kegiatan pengawasan intelijen asing kecuali ada tujuan validasi keamanan nasioal tertentu, ini berlaku untuk warga biasa dan pemimpin dunia," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.

Selama kampanye lobi Israel sebelum kesepakatan dengan Kongres pada September, NSA menghapus nama-nama anggota parlemen dari laporan intelijen dan memisahkan informasi pribadi.

Dalam penyadapan itu, WSJ mengatakan NSA berhasil menanam malware yang memungkinkan NSA mengakses komunikasi di dalam kantor Netanyahu. Informasi itu dikirim ke Obama kurang dari enam jam setelah dikirim. 

 

Baca juga: Ajudan Kim Jong Un Meninggal dalam Kecelakaan Mobil

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA