REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Orang-orang Cina memiliki hampir dua kali optimisme tentang dunia dibandi orang-orang dari negara lain. Sementara orang-orang Inggris merupakan negara kelima yang paling pesimis.
Hal tersebut diketahui dari survey terbaru dilansir dari the Star Online, Ahad (17/1). YouGov mensurvei lebih dari 18 ribu orang di 17 negara dan menemukan 41 persen dari pengguna internet di Cina mengatakan dunia semakin baik.
Pandangan cerah negara ini hampir dua kali lipat negara paling optimis berikutnya, Indonesia. Masyarakat di negara kepulauan tersebut memiliki tingkat optimisme sebesar 23 persen. Rata-rata optimisme global hanya 10 persen.
Hal ini disebabkan kebanyakan di tempat lain adanya kemungkinan terbunuh oleh manusia lain, harapan hidup, kemiskinan, demokrasi dan aturan hukum semuanya meningkat secara signifikan selama 200 tahun terakhir.
Sebuah analisis kepada lebih dari 10 ribu orang di Inggris tahun lalu menemukan, kepercayaan bahwa dunia menjadi lebih baik tergantung pada pemuda, berpendidikan dan kelas menengah. Meski begitu, pesimistis Inggris rupanya tidak lebih buruk dari Prancis.
Menurut survei, 81 persen dari pengguna internet di Prancis mengatakan dunia semakin buruk sementara hanya tiga persen yang mengatakan dunia semakin baik.
Produk domestik bruto per kapita atau GDP tampaknya memiliki sedikit hubungan dengan optimisme.
Contohnya, Amerika Serikat memiliki lebih dari 31 persen GDP per kapita dari Inggris. Namun kedua negara sama-sama pesimis, dengan 65 persen responden mengatakan dunia semakin parah.
Sementara itu, Australia yang merupakan negara paling pesimis kedua memiliki kekayaan hampir 20 kali lebih per orang dari negara kedua paling optimis, Indonesia.
Penelitian ini menunjukkan kesenjangan besar antara Cina dan seluruh dunia ketika membicarakan nasib planet inj mengungkapkan sesuatu yang istimewa.
Tingkat pertumbuhan negara, prioritas kesehatan dan kualitas makanan berkontribusi sebagai faktor keyakinan di masa depan yang cerah.