Rabu 03 Feb 2016 16:39 WIB

Polisi Australia Duga Peretas Asing di Balik Ancaman Sekolah

Salah satu sekolah di Parramatta di pinggiran Sydney yang mendapat ancaman bom, Jumat (29/1).
Foto: abc
Salah satu sekolah di Parramatta di pinggiran Sydney yang mendapat ancaman bom, Jumat (29/1).

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Kepolisian Australia yang menyelidiki ancaman bom sekolah melalui telepon mencurigai panggilan palsu tersebut berasal dari luar negeri dan menjadi bagian dari peretasan mutakhir, Selasa (2/2).

Panggilan telepon yang dimulai pada Jumat pekan lalu menyebutkan ancaman bom atau penembakan di sejumlah sekolah di wilayah setidak-tidaknya tiga negara bagian dan ibu kota. Terjadi hampir setiap hari sejak itu, panggilan tersebut tampaknya otomatis, tersimpan dalam pusat data dan dilancarkan secala berkala di Internet, kata pihak berwenang.

Kejadian tersebut menyusul kepalsuan sejenis lain, yang menyebabkan pengungsian ribuan pelajar di Inggris, Prancis, Belanda dan Jepang dalam beberapa bulan belakangan. Pihak berwenang Australia tidak mengatakan apakah ancaman tersebut berhubungan atau tidak.

Kepolisian negara bagian New South Wales mengatakan dalam pernyataan tidak ada tanda terkait hubungan kepalsuan itu dengan terorisme, dan mendesak media menahan diri demi menekan publisitas pelaku.

"Tidak ada bukti selain hal itu adalah kepalsuan yang dirancang untuk menyebabkan kerusuhan dan ketidaknyamanan yang tidak diperlukan. Ancaman tersebut tampaknya berasal dari luar negeri tanpa adanya bukti kuat yang menunjukkan hal itu dilakukan dari dalam," ujar pernyataan kepolisian.

Australia yang merupakan salah satu kontributor terbesar dalam kampanye pengeboman pimpinan Amerika Serikat terhadap para militan ISIS di Irak dan Suriah sedang berada dalam peringatan bahaya akan serangan yang berasal dari kelompok radikal dalam negeri.

Pihak berwenang mengatakan mereka telah menggagalkan sejumlah potensi serangan, merkipun terdapat sejumlah serangan tunggal termasuk yang melibatkan beberapa remaja usia sekolah.

James Merlino, Menteri Pendidikan di negara bagian Victoria, mengatakan kepolisian sedang menyelidiki apakah beberapa panggilan telepon itu dialihkan melalui peralatan telekomunikasi yang telah diretas di sebuah SMA prestisius di Melbourne.

"Bisa jadi peretasan dan telekomunikasinya memantul kesana kemari di seluruh dunia dan berakhir di sekolah ini," kata Merlino kepada sebuah radio pada Rabu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement