Senin 25 Apr 2016 21:16 WIB

Pemerintah AS akan Rilis Dokumen Rahasia Laporan 9/11

Rep: Gita Amanda/ Red: Winda Destiana Putri
Bendera Amerika Serikat
Foto: anbsoft.com
Bendera Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat nampaknya akan merilis dokumen 28 halaman yang diklasifikasi merupakan bagian dari laporan 9/11.

Laporan tersebut kemungkinan akan "mengarahkan jari" pada kolusi Arab Saudi ke dalam serangan yang melanda New York dan Washington.

Dilansir laman The Independent, Senin (25/4), mantan kepala komite bipartisan yang menyelidiki serangan dan menerbitkan penemuan tersebut mengatakan dia percaya pemerintahan Barack Obama akan membuat keputusan terkait masalah itu pada Juni.

Dokumen-dokumen yang belum pernah dirilis tersebut berisi informasi dari penyelidikan kongres bersama mengenai sumber dukungan asing untuk serangan pembajakan 11 September.

Mantan Senator Demokrat Bob Graham mengatakan pejabat pemerintah mengatakan padanya bahwa pejabat intelijen akan memutuskan dalam beberapa pekan apa akan merilis beberapa bagian dari dokumen itu. Pengungkapan dokumen ini dilakukan di tengah menegangnya hubungan Saudi-AS yang merupakan sekutu lama.

"Saya harap keputusannya untuk menghormati rakyat Amerika dan membuatnya tersedia. Pertanyaan paling penting 9/11 yang tak terjawab adalah apakah 19 orang ini melakukan plot yang sangat canggih ini sendiri atau ada yang mendukung mereka?" ujar Graham pada NBC, Ahad (24/4).

Saat ditanya apakah rilis ini akan mempengaruhi hubungan AS dengan Saudi, dari skala satu sampai sepuluh Graham mengatakan akan berpengaruh 7,838. Kemudian saat ditanya apa akan berdampak negatif tinggi, Graham membenarkan.

Anggota kongres bersama penyelidikan dan Komisi 9/11 Tim Roemer, telah membaca dokumen rahasia itu sebanyak tiga kali. Menurutnya 28 halaman itu merupakan "laporan awal polisi".

"Ada petunjuk. Ada dugaan. Ada laporan saksi. Ada bukti tentang para pembajak, tentang orang-orang yang mereka temui, segala macam hal berbeda yang Komisi 9/11 kemudian kaji dan selidiki," kata mantan anggota Kongres Demokrat itu, menurut Associated Press.

Roemer mengatakan banyak pertanyaan terkait peran Fahad al-Thumairy, seorang pejabat di konsulat Saudi di Los Angeles. Al-Thumairy diduga membantu dua pembajak mendapat tempat tinggal dan transportasi setelah mereka tiba di Southern California.

Al Thumairy kemudian dilarang masuk ke Amerika Serikat pada bulan Mei 2003 setelah Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa dia mungkin terlibat dalam kegiatan teroris. Roemer juga menyelidiki lebih banyak tentang Omar al Bayoumi, yang diduga kuat sebagai mata-mata Saudi dan diduga telah membantu para pembajak.

"Kami tidak menemukan, keterlibatan pemerintah Saudi di tingkat tertinggi dari serangan 9/11," kata Roemer.

Namun dia menambahkan itu tak berarti mereka 'membebaskan' Saudi. Saudi dianggap sebagai lahan subur bagi penggalangan dana untuk Alqaidah. Itu sebabnye menurut Roemer masalah ini harus diselidiki terus.

Lima belas dari 19 pembajak adalah warga Arab Saudi dan pemerintah Saudi selalu membantah mendukung para penyerang, sesuatu yang didukung oleh temuan dari laporan pejabat AS. Ironisnya, Saudi telah lama mengatakan bahwa mereka akan menyambut deklasifikasi dari 28 halaman itu karena akan memungkinkan mereka untuk menanggapi setiap tuduhan secara jelas dan kredibel.

Wakil Penasehat Keamanan Nasional Presiden Barack Obama, Ben Rhodes, mengatakan Presiden Obama telah meminta Direktur Intelijen Nasional James Clapper untuk meninjau dokumen 28 halaman itu untuk kemungkinan deklasifikasi.

"Ketika itu selesai kita harapkan bahwa akan ada beberapa derajat deklasifikasi yang menyediakan informasi lebih lanjut," kata Rhodes kepada wartawan di Riyadh pekan lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement