Selasa 26 Apr 2016 18:53 WIB

Dua Aktivis LGBT Tewas Diserang

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ilham
Police line. Ilustrasi
Foto: .
Police line. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Seorang pekerja Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangladesh, Julhaz Mannan dan temannya bernama Tanay Mojumdar diserang hingga tewas oleh ekstremis Islam di Dhaka. Keduanya merupkan editor majalah yang memperjuangkan hak kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), Rupban di negara tersebut.

Seperti diberitakan Heavy.com, keduanya diserang di dalam apartemen pekerja kedutaan AS oleh sekelompok pria yang menyamar sebagai kurir.

Hingga saat ini, homoseksual masih menjadi isu sensitif di Bangladesh. Untuk meningkatkan toleransi di masyarakat, Mannan dan kawan-kawan mendirikan Roopban. Keduanya percaya, semakin banyak gay di Bangladesh, peluang untuk bisa diterima di masyarakat semakin besar.

Secara vokal pada Februari 2016, ia kepada Tribun Dhaka mengungkapkan masalah yang dihadapi masyarakat LGBT di Bangladesh. Namun ia secara khusus becerita tentang bahaya kencan online.

"Sudah ada beberapa contoh dari orang-orang yang terjebak dan diperas untuk membayar pemerasan dalan jumlah tinggi," ujarnya.

Berkaitan dengan pekerjaannya di Kedubes AS, Julhaz mengatakan dalam media sosialnya lulus dari University of Dhaka.

Julhaz adalah keponakan dari mantan Menteri Luar Negeri Bangladesh Dr. Dipu Moni. Moni menjabat menteri pada November 2009 sampai Januari 2013. Selama pemimpinannyan, Moni dikritik karena banyaknya perjalanan asing yang dilakukan. Julhaz yang berusia 35 tahun tersebut menikah dengan Tawfique Nawaz.

Sebelumnya, seorang profesor universita tewas akibat penyerangan dari orang tak dikenal.

Direktur Amnesty Internasional Asia Selatan Champa Patel mengatakan, pembunuhan brutal tersebut menggarisbawahi kurangnya perlindungan yang diberikan kepada berbagai aktivis damai di Bangladesh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement