Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Petani Afrika Ancam Dominasi Belanda Sebagai Raja Bunga

Ahad 19 Jun 2016 07:21 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Dwi Murdaningsih

Bunga tulip di Den Haag.

Bunga tulip di Den Haag.

Foto: Alwi Shahab/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, AALSMEER - Belanda sedang berjuang mempertahankan mahkotanya sebagai negara penyedia bunga potong terbesar di dunia. Selama beberapa dekade, FloraHolland telah bertindak sebagai pusat distributor bunga ke seluruh dunia. Pesawat dari berbagai negara mengambil stok bunga dari gudang mereka yang luas di Aalsmeer, dekat bandara Amsterdam.

Dilansir dari Reuters, Ahad (19/6), FloraHolland telah mendistribusikan hampir 50 persen dari semua bunga yang dijual di seluruh dunia. Tahun lalu, dilaporkan penjualan sebesar 4,6 miliar euro atau setara 5,13 miliar dolar AS.

Tapi, ada yang mengkhawatirkan bagi Chief Executive FloraHolland, Lucas Vos. Para petani di Afrika semakin gencar menjual langsung bunga kepada pembeli. "Penjualan bunga oleh petani secara langsung kepada pembeli telah mengalahkan angka penjualan melalui lelang FloraHolland," kata Vos.

Selama ini, 50 persen ekspor bunga Kenya dijual melalui FloraHolland. Begitu pula Ethiopia, hampir 70-80 persen bunga diekspor lewat perusahaan tersebut. Tapi, komitmen pada FloraHoland membuat para petani sulit menjajal pasar yang lebih luas, seperti Cina dan India. Hal itu membuat sebagian petani mulai berpikir jalan lain.

Angka penjualan bunga dari petani secara langsung naik 3,8 persen menjadi 2,3 miliar euro tahun lalu. Sementara, penjualan bunga melalui lelang turun satu persen menjadi 2,1 miliar euro.

Alhasil, FloraHolland sedang sibuk mencari perubahan sistem lelang yang sudah dimulai dari masa 100 tahun silam. Tak main-main, yang dipertaruhkan adalah tergelincirnya dominasi Belanda dalam perdagangan bunga global.

Data Rabobank menambahkan, selama satu dekade terjadi penurunan ekspor bunga potong dari Belanda. Belanda mengekspor 52 persen bunga potong dunia pada 2013, turun dari angka 58 persen pada 2003.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA