Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Presiden Duterte: Akan Tiba Waktunya Hadapi Abu Sayyaf

Jumat 24 Jun 2016 16:51 WIB

Red: Ani Nursalikah

Rodrigo Duterte

Rodrigo Duterte

Foto: AP/Bullit Marquez

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte pada Jumat (24/6) mengatakan akan tiba waktunya baginya menghadapi milisi Abu Sayyaf.

Pada Jumat, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi mengatakan, pengiriman batu bara ke Filipina akan tetap dihentikan sampai Manila dapat mengamankan wilayah perairannya setelah tujuh pelaut Indonesia diculik, peristiwa terbaru dalam serangkaian penculikan.

"Akan ada waktu bagi saya untuk menghadapi Abu Sayyaf. Penculikan itu harus dihentikan," kata Duterte setelah bertemu seorang perempuan Filipina yang dibebaskan setelah sembilan bulan disekap.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah Filipina memastikan keamanan di wilayah perairan Filipina selatan agar aksi penyanderaan anak buah kapal (ABK) oleh kelompok bersenjata tidak terus terulang. Menlu RI mengatakan, pada 23 Juli 2016 ia mendapat konfirmasi telah terjadi penyanderaan tujuh ABK Indonesia dari kapal tugboat Charles 001 dan kapal tongkang Robby 152.

Dia menyebut, penyanderaan terhadap tujuh ABK Indonesia itu terjadi di Laut Sulu dalam dua tahap, yaitu pada 20 Juni sekitar pukul 11.30 waktu setempat dan sekitar 12.45 waktu setempat oleh dua kelompok bersenjata yang berbeda.

Terkait peristiwa itu, Menlu Retno mengecam aksi penyanderaan ABK asal Indonesia oleh kelompok bersenjata yang kembali terjadi di Filipina Selatan pada 20 Juni 2016. "Pemerintah Indonesia mengecam keras terulangnya penyanderaan terhadap (ABK) WNI oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Kejadian yang ketiga kalinya ini sangat tidak dapat ditoleransi," ujar dia.

Menlu Retno juga menegaskan, Pemerintah Indonesia siap bekerja sama dengan Pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan sandera ABK WNI.

Sehubungan dengan upaya patroli bersama di wilayah perairan yang disepakati antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia, sampai saat ini ketiga pihak masih membahas prosedur operasi standar (SOP) patroli bersama tersebut.

Menurut dia, Pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi yang baik dengan Pemerintah Filipina dalam upaya pemeriksaan kejadian penyanderaan dan perkembangan situasi di lapangan.

 

Baca: Mahasiswa Papua Nugini Bakar Kendaraan dan Blokir Jalan

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA