Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Berbagi Lewat Ekonomi Cafe di Melbourne

Rabu 29 Jun 2016 13:00 WIB

Red:

abc news

abc news

Foto: abc news

Berbekal gelar sarjana di bidang Hak Asasi Manusia, Crystal Fickers menghabiskan waktu hampir setahun untuk mencari kerja, sebelum kemudian memutuskan membuka usaha sendiri. Sekarang, dia dan pasangannya Trishay Trada menciptakan lapangan kerja dan membuat jaringan lewat bisnis cafe dan usaha kerajinan di Melbourne.

Crystal dan Trishay menjelaskan kepada Australia Plus mengenai keputusan mereka untuk membuat bisnis yang juga berjiwa sosial.

Ceritakan mengenai cafe anda. Apa yang membuat kalian memutuskan membuat bisnis sendiri dan mengapa memutuskan sebagai bisnis berjiwa sosial?

Crystal: Kami menjalankan bisnis berjiwa sosial yang menjual teh dan kopi organik, makanan vegetarian produk lokal. Kami juga menjual bahan kerajinan dan peralatan rumah tangga yang sumbernya etis. Kami juga mempekerjakan para pencari suaka, dan menggunakan pemasok etis seperti STREAT, yang bekerja untuk menghilangkan gelandangan muda di Melbourne.

Mengapa bisnis berjiwa sosial? Kami percaya bahwa bila ada yang membeli kopi atau kerajinan, maka keuntungan dari itu bisa membuat keadaan di sekeliling kita menjadi lebih baik.

Sebenarnya, kami sebenarnya pada awalnya tidak berpikiran membuat usaha sendiri. Sebelumnya kami menemukan bahwa biaya sewa untuk kegiatan komersial sama dengan sewa untuk kegiatan seni, dan kami berpikir bahwa mungkin bisa memberikan tempat untuk menjual barang kerajinan, yang kami buat sendiri. Dari situ, semuanya berkembang, dan akhirnya sampai ke hal yang kami lakukan sekarang.

From the Art cafe Kebanyakan perabotan di From the Art cafe disumbangkan oleh komunitas lokal atau dari toko amal.

Supplied: Crystal Fickers

Model bisnis anda lebih banyak didasarkan pada niat baik dan bukan soal uang. Ceritakan lebih banyak mengenai hal ini dan mengapa anda yakin ini bisa berhasil?

Trishay: Model bisnis kami - selain berusaha mendorong niat baik dan hubungan non moneter - sebenarnya tetaplah sebuah usaha bisnis. Masih ada harga tetap untuk produk yang kami jual, dan ada transaksi keuangan yang berlangsung. Namun kami adalah pendukung kuat model barter di kalangan masyarakat, dan kami terus mencoba melakukannya bila memungkinkan.

Salah seorang pelanggan kami yang adalah tukang bangunan membantu memasang tempat penyimpanan di dapur cafe untuk kopi dan makanan yang didapatnya dari kami.

Seorang seniman perempuan yang merupakan artis mosaik berbakat membuat papan nama untuk cafe kami, dan kami memberikan tempat baginya untuk menjajakan karyanya.

Mosaic piece Tanda mosaic ini dibuat khusus untuk cafe dari seorang artis yang karyanya dipajang di cafe tersebut.

Supplied: Crystal Fickers

Ini beberapa contoh dari usaha kami untuk menyintas halangan kapitalisme yang kami lakukan.

Tantangan apa yang anda hadapi ketika memulai bisnis?

Trishay: Hal yang paling sulit adalah dalam berurusan dengan kota praja setempat. Surat ijin saja memerlukan waktu enam bulan sebelum kami boleh secara resmi mengisi cafe dengan peralatan.

Ruangan ini sebelumnya digunakan untuk salon, dan kami harus memasang berbagai peralatan listrik, dapur dan yang lainnya, dan ini menambah panjangnya waktu persiapan, selain tentu saja biaya lebih tinggi.

Kami hanya bisa mendapatkan pinjam tidak banyak dari bank (sekitar Rp 200 juta), dan kami harus bersusah payah untuk tidak melebihi anggaran yang ada. Kami juga mendapat dana tambahan dari anggota keluarga. Dan ternyata ada begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk memulai bisnis dari awal.

Pelajaran terbesar dari membuat bisnis dari awal dan kemudian menjalankannya?

Crystal: Bagusnya kami memulai dari bisnis kecil. Ini memberikan kesempatan kami untuk membuat sistem di dapur atau dengan berbagai transaksi bisnis pembelian misalnya, sebelum kami kewalahan dan kemudian membuat kecewa orang lain. Dengan itu kami bisa belajar terlebih dahulu mengenai persyaratan dari kota praja (council), karena ini seperti mengarungi laut yang ganas. Jadi ada pelajaran yang kami petik dari sana.

Menemukan seseorang yang tahu bagaimana sistem di sini bekerja dan belajar dari mereka sebelum kami mengisi berbagai formulir, bila tidak kami mungkin harus mengisi beberapa kali sebelum akhirnya disetujui.

Mengapa anda memutuskan mempekerjakan pengungsi? Bagaimana anda membantu mereka mengatasi masalah yang mereka hadapi?

Trishay with Jamshid from Afghanistan Jamshid (kanan) dulunya pencari suaka asal Afghanistan dan sekarang bekerja di cafe.

Supplied: Crystal Fickers

Trishay: Kami adalah pendukung kuat bahwa adalah hak setiap manusia untuk diperlakukan dengan hormat, dan mendapat kesempatan yang sama. Sejauh ini, kami sudah mempekerjakan empat orang pencari suaka.

Yang pertama adalah pengungsi asal Afghanistan Jamshid yang sudah merasakan buruknya perang dan penindasan di sana, dan harus meninggalkan negeri itu karena takut akan keselamatan jiwanya. Dari pengalaman kami, kami menemukan

bahwa kebanyakan pengungsi hanya ingin adanya stabilitas dan diterima. Para majikan bisa membantu pencari suaka lewat cara misalnya konseling, persahabatan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan di tempat kerja. Perjuangan pencari suaka tidaklah selesai

setelah mereka meninggalkan pusat penahanan (bila mereka memang dibebaskan). Di tempat kerja, banyak yang masih mengalami kesulitan seperti bahasa, perasaan rendah diri, takut ditolak, dan dalam kasus tertentu masih adanya trauma psikologis dari pengalaman masa lalu.

Anda sudah mendapat penghargaan dalam masa 6 bulan setelah bisnis anda berjalan? Apa yang terjadi?

Crystal: Saya memenangkan penghargaan 'High Commendation' untuk 'Inspirational Women's Leadership (Kepemimpinan Perempuan Inspirasional)'dari City of Monash's 'Sir John Monash Awards'. Nominasi didasarkan pada kerja yang kami lakukan di bisnis yang bermanfaat bagi komunitas. 'From the Art' sudah mendukung beberapa proyek komunitas. Selama enam bulan kami sudah menyumbang : lebih dari $5,500 (sekitar Rp 55 juta) untuk komunitas pencari suaka lokal, $5,000 (sekitar Rp 50 juta) untuk komunitas terpencil lewat fair trade, hampir $3,000 (sekitar Rp 30 juta) untuk program gelandangan (homelessness) STREAT dan $1400 (sekitar Rp 14 juta) untuk petani lokal. 

Apa tips anda untuk mereka yang berkeinginan membuat bisnis berjiwa sosial seperti anda?

Crystal: Memulai bisnis berjiwa sosial sendiri bukanlah perjalanan yang gampang. Tidak ada yang membuka bisnis sosial hanya karena mereka berpikir itu mudah dilakukan. Ini beberapa tips dari kami.

Food from the cafe Ingredients at the cafe are sourced from local farmers.

Supplied: FengYiZeng

Pertama dan terpenting carilah teman baru! Temukan mereka yang melakukan hal yang sama, dan minta waktu untuk berbicara dengan mereka. Harus ada semangat. Kadang di saat jam kerja begitu panjang, kuitansi yang menumpuk dan pelanggan yang cerewet, semangat itu yang bisa membuat kita bertahan. Bila anda ingin membuka bisnis berjiwa sosial, anda harus memiliki tekad kuat untuk membuat usaha di bidang yang anda tekuni. Kami mengambil langkah ini karena kami ingin membuat perubahan, jadi tetaplah ingat dengan apa yang ingin anda lakukan.Jangan merasa takut!

Bagaimana anda membuat bisnis sosial seperti ini menguntungkan?

Crystal: Kami sering mendapat pertanyaan seperti ini dan saya kira semua tergantung bagaimana kita berpikir mengenai modal bisnis tradisional. Untuk bisnis berjiwa sosial, keuntungan bukan semata-mata hal yang dicari. Bisnis sosial bisa bergerak, tumbuh dan berubah sesuai dengan waktu dan yang menentukan adalah pemiliknya.

Kami akan merayakan tahun pertama beberapa bulan lagi. Sejauh ini, kami masih bisa membayar tagihan ini itu, dan masih bisa memberikan bantuan sosial dalam bentuk berbagai proyek dari hasil penjualan sematan, tanpa harus mencari dana tambahan, menunjukkan model ini berjalan bagus.

Selalu ada ketakutan bahwa kita tidak bisa memiliki bisnis dan dalam waktu bersamaan memberikan sesuatu kembali ke masyarakat sekitar dan itu tidak benar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA