Rabu 14 Sep 2016 21:45 WIB

Santan Kara Hingga Kecap Bango Ada di Festival Dagang Australia

Produk Indonesia di Food and Beverage Trade Week
Foto: Republika/A Syalaby Ichsan
Produk Indonesia di Food and Beverage Trade Week

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE — Food and Beverage Trade Week 2016 tidak hanya diisi produk asal Victoria dan negara bagian Australia lainnya. Pameran dagang internasional ini juga diisi oleh delegasi dari Indonesia. Beragam produk olahan bermerek khas Tanah Air bisa dilihat di stan ini. Stan tersebut menampilkan produk khas Tanah Air seperti santan Kara hingga kecap Bango. 

Pemilik Ozimex Internasional Suliyanti Sunaryo menjelaskan, pihaknya memang menjual produk makanan asli Indonesia setelah puluhan tahun lalu mencoba usaha penjualan perlengkapan masak. “Awalnya kita coba jual stationery dan hardware buat cooking,”kata Suliyanti saat berbincang dengan Republika.co.id di Melbourne Convention and Exhibition Center di Melbourne, Victoria, Australia, Rabu (14/9) waktu setempat. 

Pada 1993, Suliyanti pun banting setir untuk berbisnis produk makanan khas Indonesia. Produk Indonesia yang dibawa Suliyanti tidak  hanya menarik perhatian warga Indonesia di Australia. Dia menjelaskan, warga Australia juga menjadi konsumen produk-produk Indonesia. “Karena orang Australia gampang coba-coba,”kata Suliyanti. 

Suliyanti pun memanfaatkan besarnya minat Australia terhadap makanan baru. Dia lantas mendemonstrasikan kepada warga Australia bagaimana caranya membuat rendang hingga semur. Kemudian bumbunya diambil dari makanan produk olahan yang dijualnya. Menurut dia, dengan memberi pengetahuan mengenai produk makanan yang diberikan, warga Australia bisa lebih menikmati makanan-makanan khas Indonesia. 

Pengusaha perempuan yang kini tinggal di Sydney itu menjelaskan, produk olahan santan menjadi menu favorit bagi para warga Australia. Kelapa yang memiliki beragam produk turunan salah satunya santan disebut memiliki rasa yang kuat. “Orang Australia sangat menyukai itu,”kata dia. 

Kini, Suliyanti memetik hasil yang ditanamnya. Dia bisa mendapatkan omzet hingga 500 ribu dolar Australia per bulan. Tak hanya itu, Suliyanti pun sudah menjual produk-produk tersebut di Sydney dan Melbourne. 

(Liputan ini hasil kerja sama Republika dengan ABC International).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement