Selasa 18 Oct 2016 05:13 WIB

Gencatan Senjata di Yaman Berlangsung Selama 72 Jam

Rep: Rr Laeny Sulistywati/ Red: Nidia Zuraya
Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Foto: Reuters
Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi telah sepakat untuk gencatan senjata 72 jam dan tidak menutup kemungkinan kesepakatan itu bisa diperpanjang. Hal itu dinyatakan Menteri Luar Negeri Yaman Abdel-Malek al-Mekhlafi di akun Twitter resminya, Senin (17/10).

"Presiden setuju untuk gencatan senjata 72 jam dan akan diperpanjang jika pihak lain mematuhinya, mengaktifkan DCC, dan mencabut pengepungan Taiz," katanya seperti dilansir Reuters

DCC adalah komisi militer yang bertanggung jawab untuk mengawasi gencatan senjata.

Menteri Informasi Yaman dalam cuitannya mengatakan bahwa Hadi akan bertemu Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh pada Kamis (20/10) untuk menentukan tanggal dimulainya gencatan senjata.

Sebelumnya Hadi telah meminta akses kemanusiaan di Taiz. Pasukan pemerintah memang hanya berhasil mempertahankan kontrol satu dari empat rute akses.

Pasukan pemberontak Houthi dan sekutunya Iran serta pasukan yang setia kepada mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, menguasai banyak wilayah Yaman bagian utara. Sementara pasukan yang setia kepada Hadi yang didukung Arab Saudi menguasai sisa-sisanya.

Namun pejabat Houthi belum bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar tentang hal ini. Arab Saudi dan sekutunya telah melakukan serangan udara dan mengerahkan pasukan di Yaman untuk mendukung pemerintah Hadi sejak Maret 2015. Menurut data PBB, sekitar 10 ribu orang, termasuk 3.800 warga sipil, tewas akibat konflik ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement