Selasa 15 Nov 2016 18:35 WIB

Muslim, Yahudi dan Gay, Sasaran Kebencian Tertinggi di Amerika

Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Ani Nursalikah
Para demonstran ditangkap anggota kepolisian Los Angeles setelah melakukan aksi unjuk rasa menentang terpilihnya kandidat asal Partai Republika Donald Trump sebagai Presiden AS, di California, AS, Sabtu (12/11)
Foto: Reuters/Kevork Djansezian
Para demonstran ditangkap anggota kepolisian Los Angeles setelah melakukan aksi unjuk rasa menentang terpilihnya kandidat asal Partai Republika Donald Trump sebagai Presiden AS, di California, AS, Sabtu (12/11)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Biro Investigasi Federal (FBI) melaporkan Muslim merupakan target kejahatan anti-agama paling tinggi di Amerika. Sedangkan target kejahatan anti-agama kedua adalah penganut Yahudi.

Baik Muslim maupun Yahudi rentan mendapat serangan berdasarkan kebencian agama. Kedua penganutnya sering diserang karena agama yang dianutnya.

Seperti dilansir Aljazirah, Selasa, (15/11), FBI juga menyebutkan terdapat serangan terhadap orientasi seksual tertentu. Dari 1.053 insiden akibat orientasi seksual tertentu, 19 persen serangan kebencian ditujukan kepada kaum gay.

Mereka merupakan salah satu kelompok yang kurang disukai, meskipun pada akhirnya Amerika melegalkan penikahan sesama jenis. Seorang gay yahudi, Mark Joseph Stern mengatakan ia merasa takut sejak Trump terpilih menjadi Presiden Amerika.

Baca: Masa Depan Muslim AS Diprediksi Memburuk di Era Trump

"Saya sering mendapatkan pesan berisi cemoohan yang menyakitkan seperti 'dasar homo', 'dasar Yahudi'," katanya dilansir Slate.com

Bahkan, ujar dia, ia sering mendapat ancaman pembunuhan. "Namun ancaman itu bukan hanya kepada saya saja. Tapi kepada orang-orang seperti saya, homoseksual dan Yahudi," kata Stern.

Laporan FBI tersebut muncul saat kebencian terhadap ras dan agama tertentu meningkat pascapemilihan presiden baru di Amerika.

Direktur Komunikasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) Ibrahim Hooper mengatakan statistik tersebut hanya menggambarkan sebagian insiden yang terjadi di lapangan saat ini. Itu bukan seluruhnya.

"Kami menyaksikan kebencian terhadap Muslim menyebar pada 2015, bahkan meningkat sejak kampanye Donald Trump untuk menjadi presiden," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement