Kamis 24 Nov 2016 18:11 WIB

'Hujan Badai Asma' Tewaskan 4 Warga di Melbourne

Sahabat dan kerabat memberikan penghormatan kepada Hope Carnevali (kiri) dan Omar Moujalled (kanan).
Foto: abc
Sahabat dan kerabat memberikan penghormatan kepada Hope Carnevali (kiri) dan Omar Moujalled (kanan).

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Kematian keempat telah dikaitkan dengan darurat ‘hujan badai asma’ di Melbourne pada Senin (22/11) malam. Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria mengatakan, beruntung tidak ada tambahan korban.

Lebih dari 2.000 warga menderita berbagai gangguan pernafasan ketika badai parah yang bercampur dengan serbuk sari ektrim memicu apa yang digambarkan sebagai ‘hujan badai asma’.

Rumah sakit dibanjiri pasien dengan penanganan darurat, sementara petugas pemadam kebakaran dan polisi dipanggil untuk membantu paramedis menangani ribuan panggilan, setelah badai menyebabkan masalah gangguan pernafasan bagi warga Victoria.

Menteri Kesehatan Victoria, Jill Hennessy, mengatakan, kondisi ini seperti "habis terkena bom", di mana semua ambulans, polisi, pemadam kebakaran dan transportasi non-darurat dikerahkan untuk menangani krisis [asma ini]. "Sistem kesehatan kami kewalahan," katanya kepada 774 ABC Melbourne.

"Kami tahu bahwa sejumlah petugas juga ditugaskan di unit perawatan intensif. Pada satu titik, kami sempat memiliki 140 kasus berkode satu (darurat), sembari mengatasi pasien lainnya, semuanya [yang ditangani] adalah pasien serangan jantung atau mengalami gangguan pernafasan parah," katanya.

Pelajar meninggal dua hari sebelum lulus

Apollo Papadopoulos, 35 tahun, dan Clarence Leo adalah warga Melbourne terakhir yang dipastikan tewas karena serangan asma. Sementara itu, warga setempat juga masih berduka cita atas kematian dua korban lainnya, yakni Omar Moujalled dan Hope Carnevali.

Moujalled, 18 tahun, adalah seorang pelajar di Akademi Internasional Australia di Coburg Utara, di utara Melbourne. "Dengan duka mendalam dan berat hati kami memberitahukan kabar kematian Omar Moujalled, salah satu dari siswa kelas 12 kami. Ia meninggal Selasa malam (22/11) akibat kondisi medis," demikian tulis sebuah pernyataan di halaman Facebook sekolah.

"Omar adalah seorang pelajar teladan, panutan dan berprinsip, yang sebelumnya bagian dari tim kapten dan seorang pelajar yang banyak disukai dan dihormati."

Teman-teman dan keluarga Omar mendonasikan uang untuk kampanye penggalangan dana pembangunan sebuah sumur untuk menghormatinya. "Pada 21 November 2016, seorang teman, saudara, putra dan teman sekelas kami meninggal karena serangan asma tragis pada usia 18," tulis Sarah Baarini, yang merancang kampanye penggalangan dana ini.

“Duka kami bagi keluarga yang ditinggalkan"

Berdasarkan penelusuran ABC, korban kedua dari ‘hujan badai asma’ ini yaitu Hope Carnevali, mahasiswi Fakultas hukum berusia 20 tahun. Kerabat korban mengatakan kepada 7 News Melbourne, ambulans butuh waktu lebih dari 40 menit untuk tiba [di kediaman korban].

“Mengetahui kematiannya, jika saja ambulan bisa tiba lebih cepat, situasinya mungkin berbeda, ini situasi yang amat sulit untuk kami hadapi,” kata tante Hope, Melissa Carnevali.

Teman-teman Hope mengucapkan belasungkawa di akun Facebook dan mulai melakukan penggalangan dana untuk membantu biaya pemakaman. “Hati saya berduka bagi seluruh keluargamu, Anda sudah menghadapi banyak hal dan tetap tersenyum. Saya tidak akan pernah melupakanmu. Beristirahatlah dengan tenang,” tulis Michelle Anne Haber di akun Facebook Carnevali.

Sejumlah kajian dilakukan menyusul kondisi darurat yang terjadi pada Senin malam (21/11), termasuk kajian yang dilakukan oleh Pemerintah Negara Bagian Victoria. Menteri Kesehatan Victoria, Jill Hennessy, mengatakan, pemerintah Victoria juga akan mempelajari penanganan secara keseluruhan dari peristiwa ini untuk memastikan negara bagian-nya dapat mengatasi insiden serupa di masa depan.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/badai-asma-tewaskan-4-warga-di-melbourne/8052298
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement