Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

PM Malaysia akan Hadiri Aksi Massa Peduli Rohingya

Ahad 27 Nov 2016 11:04 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Bilal Ramadhan

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Foto: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR – Demonstrasi besar-besaran akan digelar di Malaysia pada 4 Desember mendatang. Aksi ini bertujuan menggalang kepedulian nasional terhadap nasib etnis Rohingya. Rencana itu disampaikan Deputi PM Malaysia Ahmad Zahid Hamidi. Ia juga mengatakan aksi massa akan dihadiri Perdana Menteri Najib Razak.

Namun, lokasi persisnya belum ditentukan sampai hari ini. Hamidi mengajak seluruh politikus Malaysia dari lintas partai mengikuti demonstrasi.

“Mari kesampingkan dahulu perbedaan politik kita. Sebagai Muslim, kita sama-sama berkumpul untuk mengungkapkan kepedulian kita terhadap saudara-saudara Muslim kita di Myanmar,” kata Ahmad Zahid Hamidi saat mengunjungi Universiti Pendidikan Sultan Idris, kemarin malam. Demikian dilansir The Malay Mail, Ahad (27/11).

Pada 4 Desember nanti, lanjut dia, para tokoh Malaysia juga akan membahas tuntutan agar Nobel Perdamaian atas Aung San Suu Kyi dicabut. Seperti diketahui, pada 1991 silam perempuan pro-demokrasi itu dianugerahi penghargaan tersebut.

“Kalau seseorang diberikan kehormatan semacam itu namun tidak mampu merawat perdamaian, maka patut dipertanyakan,” jelas Hamidi.

Menurutnya, Malaysia dan negara-negara jiran telah berbuat banyak untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Rohingya. “Kami telah menunjukkan konsen yang mendalam terhadap isu Rohingya. Sebagai kaum Muslim, kami bisa merasakan penderitaan mereka (etnis Rohingya),” ucapnya.

Hamidi juga berjanji, pemerintah Malaysia segera mengirimkan nota protes kepada Myanmar. Tujuannya mendesak agar segala kekerasan dihentikan terhadap komunitas Rohingya, khususnya di wilayah Rakhine.

“Kabinet telah mengadakan rapat dan memutuskan mengirimkan nota protes ke Kedubes Myanmar di Kuala Lumpur," ujarnya. Ia menegaskan urusan dalam negeri Myanmar tidak bisa diintervensi. Namun, persoalan Rohingya sudah menyita perhatian dunia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA