Kamis 26 Jan 2017 07:57 WIB

Meski tak Ada Bukti, Trump akan Selidiki Kecurangan Pemilu

Kue pelantikan Donald Trump.
Foto: AP
Kue pelantikan Donald Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menginvestigasi apa yang dia yakini sebagai kecurangan suara pada Pemilu November tahun lalu kendati pakar, pejabat dan politikus di AS sama-sama meyakini praktik semacam itu jarang sekali terjadi di AS.

Trump pernah membantah kalah jumlah suara pemilih (popular vote) dari Hillary Clinton. Sebaliknya menyatakan dialah yang memenangkannya seandainya Pemilu tidak curang. Trump tak pernah menyertakan bukti untuk klaimnya itu.

"Saya akan memerintahkan penyelidikan besar untukkecurangan suara , termasuk mereka yang terdaftar memberikan suara di dua negara bagian, mereka yang ilegal dan bahkan mereka yang sudah terdaftar pemilih padahal telah lama mati. Tak peduli hasilnya, kami akan memperkuat prosedur pemungutan suara!" kata Trump dalam Twitter.

Dia tidak menjelaskan lebih jauh dari dua cicitannya di Twitter itu. Namun, sebelum pemungutan suara Pemilu 8 November dia sudah menuduh hasil Pemilu akan dicurangi dan mengklaim tiga juta sampai lima juta imigran gelap telah memilihnya.

Baca: Sebuah Wajah Muslimah Amerika yang Jadi Simbol Perlawanan Trump

Meski menang suara elektoral sehingga menjadi presiden AS, Trump kalah jumlah suara pemilih (popular vote) sampai lebih dari 2,9 juta suara. Tudingan Trump itu tidak disertai bukti dan bertolak belakang dengan praktik Pemilu di AS selama ini.

Partai Demokrat mengkhawatirkan kengototan Trump dalam perkara ini akan memaksa Republik menerapkan pembatasan-pembatasan dalam pemberian suara selama Pemilu.

"Krisis politik besar yang kita hadapi adalah bukan kecurangan suara yang nyaris tidak ada. Yang ada adalah tekanan kepada pemilih dan penyangkalan hak pilih," kata Senator Bernie Sanders, bekas bakal calon presiden dari Partai Demokrat, dikutip Antara News.

Dari laporan Brennan Center pada 2007 yang berjudul The Truth About Voter Fraud, ternyata tingkat kecurangan Pemilu di AS hanya antara 0,00004 persen sampai 0,0009 persen.

Penelitian Washington Post juga hanya mendapati 31 kasus yang mungkin berkaitan dengan kecurangan suara dari satu miliar suara yang didapat dari Pemilu 2000 sampai 2014. Penelitan dari Universitas Negeri Arizona pada 2012 dan 2016 juga menghasilkan kesimpulan yang nyaris sama.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement