Kamis 09 Feb 2017 12:05 WIB

Inovasi Sebagai Jawaban Ketertinggalan Indonesia

Para peserta diskusi di Perth (Australia Barat) membicarakan inovasi di Indonesia.
Foto: ABC
Para peserta diskusi di Perth (Australia Barat) membicarakan inovasi di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, PERTH -- Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam soal inovasi teknologi. Dalam diskusi di Perth (Australia Barat), Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan bahkan inovasi sederhana dalam bidang seperti pengembangan bibit tanaman, akan sangat bermanfaat di Indonesia. Berikut laporan mahasiswa asal Indonesia Abi Sofyan Ghafari dari diskusi tersebut.

Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam mengejar ketertinggalan dari negara lain. Meskipun memiliki keunggulan sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk besar dan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dibanding negara maju, kurangnya penerapan teknologi masih menempatkan Indonesia di bawah negara berkembang lainnya dari segi indeks kompetitif.

Hal itu diungkapkan Agung Dorodjatoen, Presiden The Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA) yang juga kandidat doktor di bidang ekonomi geografi di University of Western Australia (UWA), saat membuka Dialog Kebangsaaan (DK) Seri IX bertajuk “Masyarakat Berbasis Inovasi”, Ahad (5/2) di Perth.

Dialog yang diselenggarakan AIPSSA bekerja sama dengan KJRI Perth menghadirkan Dr Unggul Priyanto, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Berkaitan dengan tema acara, Agung menyampaikan inovasi di berbagai bidang merupakan salah satu indikator keberhasilan dan kunci mengejar ketertinggalan teknologi dari bangsa lain.

Ia berharap dialog dapat bermanfaat bagi peserta yang mayoritas mahasiswa dan cendekia Indonesia di Perth sehingga dapat berkontribusi atas pengembangan dan penerapan teknologi sekembalinya ke Indonesia. Ade Padmo Sarwono, Konsul Jenderal RI Perth, menyampaikan bahwa suatu negara bisa menjadi negara maju ketika menciptakan inovasi.

Ia mengambil contoh Korea Selatan yang dahulu memiliki pemerintahan bergaya militer, kini menjadi produsen teknologi papan atas yang mampu mengungguli Jepang di beberapa bidang, negara tetangganya yang lebih dulu menerapkan ekonomi berbasis teknologi.

Ade menyampaikan pihaknya di KJRI Perth senantiasa mendorong mahasiswa Indonesia yang tengah studi untuk terus berkreasi dan menciptakan inovasi.

Unggul Priyanto Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia Unggul Priyanto.

Foto: Abi Sofyan Ghifari

Dalam diskusi, Unggul Priyanto menyampaikan pandangannya mengenai inovasi yang dibutuhkan Indonesia dan peran lembaga yang dipimpinnya dalam mengembangkan dan menerapkan inovasi tersebut. “Inovasi merupakan hasil karya yang bermanfaat bagi orang banyak,” terangnya.

Menurutnya, berbeda dengan invensi yang merupakan penemuan baru dan orisinal, inovasi tidak harus selalu baru tetapi dapat merupakan modifikasi atas apa yang telah ada dengan memberi nilai tambah.

Ia mengatakan inovasi dan alih teknologi merupakan hal yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini demi meningkatkan daya saing dan kemandirian. Unggul mengakui bahwa ketertinggalan Indonesia dengan negara lain, seperti negara-negara Eropa, masih sangat jauh.

Menurut Global Competitiveness Report 2012-2013, Indonesia bahkan masih tertinggal dari negara lain dalam satu kawasan ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Pria yang memperoleh doktor dari Kyushu University, Jepang, ini menyataklan banyak hal yang perlu diperbaiki dalam menaikkan daya saing Indonesia di kancah global.

Hal ini termasuk perbaikan infrastruktur, reformasi birokrasi yang dapat menciptakan tata kelola yang baik (good governance), serta peningkatan kondisi ekonomi mikro yang menjadi kekuatan Indonesia. Meski memiliki pendapatan domestik bruto (GDP) yang besar setiap tahunnya, Indonesia masih mengandalkan sektor konsumsi sebagai penggerak ekonomi yang porsinya sangat dominan dibanding sektor industri, investasi, serta penelitian dan pengembangan.

Kepala BPPT mengatakan Indonesia perlu mengubah paradigma ekonomi berbasis efisiensi (efficiency-driven economy) yang sangat bergantung pada sumber daya asing, menjadi ekonomi berbasis inovasi (innovation-driven economy) yang mengandalkan produk hasil inovasi anak bangsa serta alih teknologi.

“Menggunakan inovasi dalam negeri saja tidak cukup, perlu alih teknologi juga,” ujarnya.

Ia menegaskan kombinasi antara inovasi dalam negeri dan alih teknologi dari negara lain dapat berkontribusi memperkecil gap teknologi Indonesia di berbagai sektor.

Kekuatan Inovasi Indonesia

Pada sesi diskusi, Noor Syaifuddin, mahasiswa doktoral asal Indonesia di UWA mempertanyakan kekuatan inovasi Indonesia yang dapat menjadi kunci dalam persaingan global. Menanggapi hal ini Unggul menjelaskan bahwa Indonesia akan terus membutuhkan dan secara berkelanjutan mengembangkan produk inovasi pertanian.

Ia menyontohkan inovasi sederhana seperti pengembangan bibit tanaman dapat berdampak luar biasa bagi para petani dan konsumen seperti peningkatan produktivitas, penyingkatan waktu tanam dan panen, ketahanan terhadap hama dan iklim, sehingga mengurangi biaya produksi. Terkait dengan inovasi di bidang pangan dan pertanian, Irma Calista, seorang mahasiswa master bidang ilmu botani dan pertanahan UWA, mengungkapkan kekhawatiran mengenai kurangnya implementasi inovasi teknologi pertanian di Indonesia.

Unggul mengatakan program pemerintah saat ini serta kebutuhan masyarakat terhadap swasembada pangan seperti padi, jagung, dan kedelai meningkatkan perlunya inovasi pertanian. Ia meyakini banyak ruang untuk inovasi di bidang ini. Inovasi-inovasi tersebut masih akan terus dibutuhkan baik dalam pengembangan bibit unggul, pupuk, hingga pengendalian hama  untuk dapat merevolusi sektor pertanian Indonesia.

Peran BPPT

Meski banyak inovasi yang dilakukan para peneliti dan praktisi industri, Unggul Priyanto mengakui pengembangan dan penerapannya di Indonesia masih menemui berbagai tantangan. Kendala penerapan teknologi terletak di berbagai sektor seperti standarisasi produk, pendidikan, penelitian, dan pengembangan, kerjasama dengan industri, infrastruktur, hingga sistem politik dan perundang-undangan.

Menurutnya, untuk mengimplementasikan inovasi teknologi secara maksimal dan efisien diperlukan kerjasama tiga komponen yaitu pemerintah, industri, serta lembaga pemerintah non kementerian yang bergerak di bidang riset dan pengembangan seperti halnya BPPT.

Lebih lanjut, Unggul memaparkan lembaganya berfungsi memastikan bahwa hasil riset strategis dapat diterapkan di masyarakat. Output yang dihasilkan dapat berupa inovasi maupun layanan teknologi seperti rekomendasi, pengujian, survey dan audit teknologi, serta alih teknologi yang memberi nilai tambah demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya saing global.

Sumbangan Tulisan: Abi Sofyan Ghifari

*Abi Sofyan Ghifari adalah mahasiswa master di The University of Western Australia (UWA), Perth dan Ketua Departemen Litbang The Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA).

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/diskusi-mahasiswa-di-perth-inovasi-sebagai-jawaban-ketertinggal/8252136
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement