Jumat 10 Feb 2017 01:30 WIB

Jepang Hanya Terima 28 Pengungsi Sepanjang 2016

Pengungsi Afghanistan (ilustrasi)
Foto: AP Photo/Ahmad Nazar
Pengungsi Afghanistan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Jepang hanya memberikan suaka kepada 28 pengungsi sepanjang tahun lalu meskipun jumlah pendaftar melampaui angka tertinggi mencapai hampir 11 ribu orang. Menurut data pemerintah setempat, Sepanjang 2016, 10.901 orang mencari suaka di Jepang atau naik 44 persen dari tahun sebelumnya, saat negara tersebut menerima 27 pengungsi.

Dari yang diberi hak suaka, tujuh di antaranya berasal dari Afghanistan, empat dari Ethiopia, dan tiga dari Eritrea, kata dokumen pemerintah. Belum diketahui apakah ada pengungsi asal Suriah mendaftar suaka di Jepang.

Imigrasi adalah topik bermasalah di Jepang, yang sering membanggakan keseragaman kebudayaan dan suku. Negara itu dikenal pelit memberi izin imigrasi meski mengalami penuaan penduduk dan penurunan jumlah pekerja.

Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia pada bulan lalu mendesak Jepang menerima lebih banyak pengungsi dan memperkuat perlindungan bagi pekerja asing. Kerendahan tingkat penerimaan Jepang terhadap pengungsi sangat berlawanan dengan yang terjadi di Eropa. Pada tahun lalu, mereka harus menanggung ratusan ribu pencari suaka yang melarikan diri dari perang serta kemiskinan seperti Suriah, Irak, dan Eritrea.

Jerman memberi suaka sebanyak 745.545 pada tahun lalu. Pada periode yang sama, Berlin menerima 256.000 permohonan suaka. Pada Januari hingga September tahun lalu, Jepang adalah donor terbesar keempat di badan pengungsi PBB (UNHCR) dengan nilai sumbangan sekitar 165 miliar dolar AS.

Perdana Menteri Shinzo Abe pada September juga mengalokasikan 2,8 milyar dolar AS untuk membantu penyelesaian krisis pengungsi. Selain itu dia menjanjikan 150 mahasiswa asal Suriah dalam program beasiswa.

Namun demikian, sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia mengkritik Jepang karena terlalu ketat dalam proses penerimaan pengungsi.

Pejabat di Kementerian Kehakiman, yang menangani pemberian suaka, menolak berkomentar mengenai kecilnya angka penerimaan pengungsi. Pencari suaka dari Indonesia menjadi yang paling banyak datang ke Jepang pada tahun lalu, disusul Nepal, Filipina, kemudian Turki. Sebanyak 97 orang, meski tidak dinyatakan sebagai pengungsi, diberi hak tinggal dengan alasan kemanusiaan.

"Sistem pengungsi di sini sangat ketat," kata Suleyman Yucel, 32, seorang pencari suaka asal Turki yang permohonannya ditolak untuk ketiga kalinya pada April tahun lalu. Dia kini harus tinggal dalam tempat penampungan, tidak boleh keluar, dan tidak boleh bekerja di Jepang.

"Jepang kini mengeluarkan keputusan yang akan menentukan hidup saya. Saya tidak punya pilihan untuk masa depan saya," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement