Sabtu 01 Apr 2017 10:35 WIB

Rakyat Mesir Berharap Pertemuan Liga Arab Bawa Kedamaian

Para pemimpin Arab dan kepala delegasi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab ke-28 di Laut Mati, Yordania, 29 Maret 2017.
Foto: Reuters
Para pemimpin Arab dan kepala delegasi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab ke-28 di Laut Mati, Yordania, 29 Maret 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Rakyat biasa di Mesir menyampaikan harapan Pertemuan Puncak, yang diselenggarakan baru-baru ini di Jordania, akan menberikan manfaat besar buat rakyat di Dunia Arab.

"Saya berharap para pemimpin Arab yang berkumpul sekarang akan menyepakati tiga hal: menentang campur-tangan Iran di negara Arab, perujukan antara Mesir dan Arab Saudi, dan menegaskan masalah Palestina adalah inti buat semua bangsa Arab," kata Ahmed Abbas (44) dari Kairo, Mesir.

Ahmed, yang bekerja sebagai akuntan buat satu perusahaan Mesir, mengatakan para pemimpin Arab harus menyadari rakyat mereka sangat menginginkan persatuan Arab dan kerja sama di segala bidang sehingga akan mengarah kepada perdamaian buat seluruh wilayah tersebut.

Pertemuan Puncak Liga Arab Ke-28 dibuka di Laut Mati, Jordania, Rabu (29/3), dan dihadiri 22 pemimpin serta wakil negara anggota. Para pemimpin Arab membahas konflik di Suriah, Irak, Libya dan Yaman serta masalah Palestina.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Wakil Senior Uni Eropa Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Federica Mogherini, Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki dan Utusan Khusus AS untuk Perundingan Internasional Jason Greenblatt juga menghadiri Permuan Puncak satu-hari itu.

"Saya harap pemimpin Arab akan bersatu sekali lagi," kata Mustafa Hegazy (58). "Bangsa Arab benar-benar terpecah, ini adalah apa yang Amerika Serikat inginkan."

Ia berbicara mengenai Pasukan Militer Gabungan Arab, yang disahkan selama Pertemuan Puncak 2015 di Mesir, dan menyatakan pasukan tersebut akan segera melihat cahaya untuk menghadapi musuh negara Arab.

Abdul Rahman Abdullah, lelaki 30 tahun dari Kairo, mendesak para pemimpin Arab agar membuat keputusan yang menentang negara yang bekerja berlawanan dengan keinginan bangsa Arab. Ia menegaskan perlunya menemukan penyelesaian cepat bagi krisis Suriah dan konflik Palestina-Israel.

"Rakyat Suriah telah menderita selama bertahun-tahun, dan begitu juga dengan rakyat Palestina. Penyelesaian dua-negara harus dicapai dan setiap rencana yang bertentangan dengan penyelesaian ini mesti dihentikan oleh para pemimpin Arab," tambah Abdul Rahman.

Para pemimpin Arab bersidang sementara wilayah mereka menghadapi banyak tantangan seperti peningkatan terorisme, perang di dalam negeri Suriah, Yaman dan Libya serta upaya internasional untuk mendorong pembicaraan perdamaian antara Palestina dan Israel.

Meskipun banyak krisis harus dibahas, para pemimpin dan pejabat asing yang diundang ke Pertemuan Puncak itu menyoroti masalah Palestina adalah masalah utama buat semua negara Arab. PBB, Uni Eropa dan para pemimpin negara Arab mengatakan tak ada pilihan selain penyelesaian dua-negara dalam mengakhiri konflik satu dasawarsa antara Palestina dan Israel.

"Penyelsaian dua-negara adalah satu-satunya cara menjamin rakyat Palestina dan Israel dapat mewujudkan aspirasi nasional mereka dan hidup dalam kedamaian, keamanan serta bermartabat," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam Pertemuan Puncak Arab Ke-28 di Yordania.

"Tak ada rencana B," kata Guterres. "Itu sebabnya mengapa penting untuk menghentikan semua tindakan sepihak yang bisa merusak penyelesaian dua negara."

Wakil Senior Uni Eropa Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Federica Mogherini sependapat penyelesaian dua-negara adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah Palestina, dan menegaskan tak ada negara regional yang memegang kunci bagi perdamaian di wilayah tersebut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement