Senin 08 May 2017 03:32 WIB

Macron: Mari Cintai Prancis

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari
Calon Presiden Terpilih Prancis Emmanuel Macron tampak di layar lebar sebelum memberikan pidato kemenangannya di Pilpres Prancis.
Foto: EPA
Calon Presiden Terpilih Prancis Emmanuel Macron tampak di layar lebar sebelum memberikan pidato kemenangannya di Pilpres Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Calon presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan pidato kemenangan beberapa saat setelah hasil jajak pendapat menunjukkan keunggulannya dalam pemilu putaran kedua yang digelar, Ahad (7/5). Ia dinyatakan sebagai pemenang, setelah penghitungan dilakukan usai tempat pemungutan suara ditutup pukul 8 malam waktu setempat.

Macron mengatakan seluruh masyarakat di Prancis harus mencintai bangsa. Ia juga meminta agar semua orang tidak ragu untuk bergabung bersamanya untuk kemajuan dan masa depan lebih baik negara itu.

"Prancis memiliki sejarah yang hebat, memiliki wajah humanis yang hebat untuk ditunjukkan ke seluruh dunia. Mari kita semua cintai Prancis," ujar Macron, dilansir NBC News, Senin (8/5).

Ini adalah pidato pertama yang Macron tamplikan di hadapan publik sejak sejumlah jajak pendapat menyatakan pria berusia 39 tahun itu diprediksi menjadi presiden baru Prancis. Dalam sebuah survei, ia tercatat unggul dalam debat terakhir atas saingannya Marine Le Pen dari Partai Front Nasional.

Mantan bankir investasi dan menteri keuangan Prancis itu kerap disebut memiliki pandangan lebih baik dalam mengatasi sejumlah isu-isu yang menjadi masalah utama negara. Macron dianggap memiliki rencana terbaik untuk kemajuan negara melalui visi dan misi yang memukau, diantaranya dalam mengurangi tingkat pengangguran negara itu.

Selain itu, ia juga menilai rencana Le Pen untuk meninggalkan mata uang Euro dan kembali menggunakan mata uang Franc sebagai sesuatu yang sangat fatal. Macron juga menjawab mengenai upaya penanggulangan terorisme yang kerap dikemukakan dengan keras oleh pesaingnya itu.

Ia mengatakan kejahatan itu menjadi salah satu prioritas yang harus ditangani dengan baik jika ia terpilih sebagai orang nomor satu di Prancis. Macron menilai cara yang ditawarkan Le Pen dalam menangani kejahatan itu hanya akan memicu perang saudara.

"Saya akan memimpin perang melawan terorisme di setiap tingkat dan Prancis akan berada di garis depan dalam mengatasi kejahatan itu dengan cara yang tidak seperti  Anda tawarkan yaitu perang saudara seperti yang diinginkan pelaku," jelas Macron.

Sebelumnya, Le Pen mengatakan bahwa Macron bersikap terlalu tenang untuk mengatasi terorisme. kandidat dari partai sayap kanan utama Prancis itu menilai saingannya tersebut tidak memiliki rencana menghadapi fundamentalisme Islam yang mungkin sangat berbahaya.

Dalam sebuah kesempatan, Macron juga menyampaikan kepada pendukungnya bahwa pemimpin seharusnya dapat membawa Prancis dalam keragaman yang saling toleransi. Ia juga menekankan bahwa kejahatan terorisme bukan berarti terkait dengan fundalisme Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement