Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

'Pahlawan Kebetulan' Ini Sebut Virus WannaCry tak Canggih

Selasa 16 May 2017 19:05 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah

Ransomware

Ransomware

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Seorang ahli informasi teknologi muda dari Inggris Marcus Hutchin (22 tahun) dipuji-puji karena berhasil melumpuhkan virus wannacry . Di mana ia menyebut virus ini dirancang dengan buruk dan tidak canggih.

Hutchin menemukan 'kill switch' untuk memperlambat efek virus tersebut saat menyapu sistem komputer di seluruh dunia. Pria asal Ifracombe, Devon utara itu menghabiskan waktu akhir pekannya untuk melawan virus. Berarti sistem komputer sudah kembali normal.

"Saya jelas bukan pahlawan, saya hanya melakukan sedikit untuk menghentikan botnet," kata pria yang bekerja di Kryptos Logic yang berbasis di Los Angeles, dikutip Telegraph, Selasa (16/5).

Senada dengan Hutchin, Direktur Eksekutif Kryptos Logic Salim Neino menyebutkan virus yang dilumpuhkan Hutchin tersebut memiliki rancangan yang buruk, yang ditambal bersama. Dan juga sejumlah bagian yang berbeda dengan sistem pembayaran yang tidak canggih.

Hutchin melumpuhkan virus itu pada Jumat sore waktu setempat sebelum menyebar luas di Amerika Serikat. "Marcus dengan program yang ia jalankan di Kryptos Logic, tidak hanya menyelamatkan AS tapi juga mencegah kerusakan yang lebih parah yang dapat menimpa di seluruh dunia," kata Neino.

Baca: ransomware " target="_blank">'Pahlawan Kebetulan' yang tak Sengaja Menghentikan Penyebaran Ransomware

Neino menambahkan, dalam waktu beberapa saat, ia bisa memvalidasi ada 'tombol mati'. Menurutnya itu adalah momen yang sangat menggairahkan di mana Hutchin memvalidasi (kemampuan) dirinya sendiri.

Akan tetapi perusahaan itu tidak dapat mengidentifikasi Patient Zero, sistem pertama yang terjangkit virus. Untuk meneliti lebih lanjut tentang siapa yang berada dibalik serangan tersebut. Meskipun pihaknya menyebut rancangan virus itu lemah.

Serangan siber ini terjadi saat mantan kepala GCHQ Sir David Omand mendengar bahwa Inggris telah menyerang Microsoft karena gagal melindungi sistem komputer yang rentan terkena serangan ransomware yang melumpuhkan. Omand yang pernah menjadi kepala penasihat keamanan dalam negeri di Number 10 itu mengatakan, raksasa teknologi tersebut mengetahui badan publik di seluruh dunia berisiko terkena serangan hacker.

"Apakah Microsoft akan berhenti mendukung Windows XP, mengetahui banyaknya institusi yang berinvestasi di dalamnya (atas desakan perusahaan pada saat itu)?" ujar Omand.

Sebagian besar komputer NHS lumpuh akibat serangan siber WannaCry. Virus ini juga sudah menyerang sekitar 200 ribu korban dari 150 negara.

NHS Digital mengaku serikat kesehatan di Inggris telah mengirimkan rincian keamanan IT yang akan melindungi mereka dari serangan. Layanan kesehatan telah dikritik karena menggunakan Windows XP yang sudah ketinggalan zaman untuk menyimpan informasi digital. Meskipun ada pembaruan untuk perangkat lunak yang sudah dihentikan oleh Microsoft tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA