Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

AS Berharap Rouhani Membawa Perubahan Bagi Iran

Ahad 21 May 2017 03:44 WIB

Rep: Taufiq Alamsyah Nanda/ Red: Andri Saubani

Hassan Rouhani

Hassan Rouhani

Foto: EPA/Matt Campbell

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH—Amerika Serikat (AS) menaruh harapan besar atas terpilihnya kembali Presiden Iran, Hassan Rouhani. Harapan di antaranya untuk meredakan tensi ketegangan di kawasan, mengakhiri uji coba rudal balistik serta melakukan proses demokratisasi di negaranya.

“Kami berharap, jika Iran masih ingin menjalin hubungan dengan seluruh dunia, hal tersebut harus dipenuhi,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson di Riyadh, Arab Saudi, di sela-sela tugasnya menemani kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump, Sabtu (20/5).

Pada masa kepemimpinan sebelumnya, Rouhani dianggap sukses mencairkan hubungan luar negeri dengan berbagai negara, pascadijatuhi sanksi ekonomi. Hal tersebut dicapai melalui kesepakatan nuklir Iran yang dilakukan pada 2015 silam.

Pada pemilu kali ini, Rouhani meraup 57 persen suara dan ditetapkan sebagai presiden terpilih. Sementara rival berat Rouhani, Ebrahim Raisi, meraup 38 persen suara. Raisi dianggap sebagai perwakilan kalangan konservatif di Iran, bersebrangan dengan Rouhani yang mewakili kelompok reformis.

Pemerintahan Trump kemungkinan akan terus menekan Iran atas program senjatanya. Serta mengecam peran Iran yang dituding telah merusak stabilitas di Timur Tengah. Hal tersebut disampaikan  oleh Reuel Marc Gerecht, anggota senior the Conservative Foundation for Defense of Democracy sekaligus mantan spesialis Iran untuk CIA. “Saya kira pemerintahan Trump akan tetap mmempertahankan sikapnya atas isu ini. Maka aku tidak berharap banyak akan terjadi perubahan,” ujar Reuel.

Dalam konferensi persnya, Tillerson menekankan bahwa pintu dialog dengan Iran masih terbuka lebar. Namun demikian, AS berharap Rouhani memutus jaringan terorisme yang dibangun Iran. Serta mengakhiri pendanaan terhadap kelompok teroris. “Apapun yang mereka pasok sehingga menciptakan instabilitas kawasan harus diakhiri. Kami juga berharap agar ia mengakhiri uji coba rudal balistik,” tegasnya.

Meskipun kesepakatan nuklir telah dicapai pada 2015 silam, Amerika Serikat masih mempertimbangkan Iran dalam daftar negara pendukung terorisme. Oleh karena dukungannnya terhadap Hezbollah, sebuah kelompok milisi syiah di Lebanon. “Kami juga berharap agar Iran memberikan hak dasar warga negaranya, seperti kebebasan berbicara dan berorganisasi. Itulah yang kami harapkan dari pemilu Iran kali ini,” kata Tillerson.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA