Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jaksa Agung AS Kembali Membantah

Rabu 14 Jun 2017 11:10 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Bilal Ramadhan

Jaksa Agung dalam pemerintahan Presiden Donald Trump, Jeff Sessions.

Jaksa Agung dalam pemerintahan Presiden Donald Trump, Jeff Sessions.

Foto: Reuters/Kevin Lamarque

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Jeff Sessions membantah dengan tegas bahwa dirinya tidak pernah melakukan pertemuan dengan pejabat Rusia. Ia menolak semua tuduhan yang datang kepadanya di hadapan Komite Inteljien Senat, Selasa (13/6).

Sessions bersumpah untuk melawan semua tuduhan mengerikan yang dialamatkan kepadanya. Termasuk dalam dugaan bahwa ia bersama dengan pejabat Rusia pernah melakukan pertemuan untuk membahas pemilu AS 2016.

Kehadiran Session di hadapan senat AS kali ini adalah untuk memberi tanggapan atas kesaksian mantan direktur FBI James Comey. Ini menjadi bagian dari penyelidikan dugan campur tangan Rusia dalam pemilu di Negeri Paman Sam.

Badan intelijen AS hingga saat ini nampaknya meyakini bahwa Rusia mencoba mencampuri pemilu AS 2016 untuk mendukung Presiden donald trump . Termasuk dalam dugaan peretasan yang dilakukan selama proses pemungutan suara berlangsung.

Sessions merupakan penasihat kampanye Trump yang juga paling dekat dengan miliarder itu. Dari bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Departemen Kehakiman AS mengenai kasus dugaan campur tangan Rusia, ia disebut pernah melakukan percakapan secara khusus dengan Duta Besar Rusia Sergei Kislyak.

"Saya tidak pernah bertemu atau berbicara dengan orang Rusia serta pejabat asing lainnya mengenai pemilu dan kampanye sepanjang pemilihan tahun lalu itu akan kembali dan terus saya tegaskan," ujar Sessions, dilansir BBC, Rabu (14/6).

Mantan anggota senat dari Alabama itu memang mengakui bahwa dirinya pernah bertemu dengan Kislyak sebanyak dua kali. Namun, itu terjadi saat sebuah acara resmi, di mana ada pidato kebijakan luar negeri yang digelar oleh Trump pada 27 April 2016.

Kasus dugan campur tangan Rusia semakin mencuat setelah Trump melakukan pemecatan terhadap Comey pada 9 Mei lalu. Dalam surat pemecatan ia menyebut diperlukan kembali kepercayaan publik terhadap FBI.

Comey dianggap mencederai jalannya pemilu AS tahun lalu dengan membuka penyelidikan skandal surat elektronik Hillary Clinton. Keputusan yang diambil oleh pria berusia 70 tahun itu kemudian membuat banyak orang meyakini Gedung Putih berusaha mengintervensi FBI di tengah penyelidikan tentang campur tangan Rusia.

Sejumlah politisi di negara adidaya itu, khsusunya dari Partai Demokrat menilai Trump melakukan langkah yang sama dengan mantan presiden AS Richard Nixon pada 1973 lalu. Saat itu, pemecatan terhadap seorang jaksa independen yang ditugaskan untuk menyidik kasus skandal Watergate dilakukan.

Comey telah memberi kesaksian bahwa ia pernah meminta Sessions untuk mencegah adanya percakapan langsung antara dirinya dan Trump. Ia juga menuturkan bahwa upaya penyelidikan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS November 2016 telah dilemahkan.

Menurut Comey, Trump telah berbohong dan mencemarkan nama baiknya dan FBI. Selama lebih dari dua jam memberi kesaksian, pria berusia 56 tahun itu juga mengatakan kepada Komite Intelijen Senat bahwa Trump mencoba memintanya menghentikan penyelidikan terhadap mantan penasihat keamanan nasional AS Michael Flynn pada Februari lalu.

Dalam sesi tanya jawab dengan Komite Intelijen Senat, Comey menegaskan Trump adalah presiden yang tidak dapat dipercaya. Ia meyakini dirinya dipecat karena kasus penyelidikan Rusia dan dianggap dapat membahayakan kepentingan pemerintahan Trump.

Meski demikian, ia mengatakan ada beberapa informasi yang tak dapat disebutkan dalam sesi tanya jawab tersebut. Comey nampaknya memiliki informasi sensitif yang hanya dapat dikemukakan melalui sesi tertutup tanya jawab dengan Senat AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA