Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Masjid Ditutup, Puluhan Muslim Myanmar Shalat di Bawah Hujan

Jumat 23 Jun 2017 14:34 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Teguh Firmansyah

Muslim Myanmar mendapat diskriminasi di negaranya

Muslim Myanmar mendapat diskriminasi di negaranya

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Ramadhan seharusnya menjadi momen yang dijalani dengan suka cita. Namun hal ini sulit diperoleh oleh umat Muslim di Myanmar bahkan hingga kini saat Ramadhan hampir berakhir.

Seperti dilansir Arab News, puluhan Muslim terpaksa shalat berjamaah di bawah gerimis hujan setelah iftar. Mereka tidak bisa shalat di masjid. Beberapa bulan lalu, tempat shalat yang biasa mereka gunakan ditutup pemerintah.

Kini mereka shalat di tempat terbuka yang jika hujan maka sajadah akan basah. Sebelumnya mereka berusaha untuk tetap bersilaturahim dengan berbuka bersama. Mereka mengantre untuk nasi dan kari.

"Kami merasa semakin didiskriminasikan," kata Hussein, seorang Muslim yang ikut dalam shalat berjamaah. Bulan lalu, komunitas Muslim di area Tharkayta, Yangon masih bisa shalat di sebuah sekolah madrasah.

Tempat itu sudah jadi pusat ibadah mereka sejak enam dekade lalu. Namun awal Ramadhan lalu, kelompok nasionalis Buddha berdemo dan menuntut pemerintah menutup tempat tersebut.

Komunitas Muslim hanya menempati porsi tiga sampai empat persen dari populasi. Diskriminasi semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. "Saat kecil dulu tidak ada diskriminasi, kami bersahabat dengan komunitas Buddha, kami bahkan makan bersama," kata Hussein.

Namun kini semuanya berubah. Sekretaris masjid di Thaketa, Aung Htoo Myint mengatakan komunitas Muslim semakin sulit menjalankan agamanya, bahkan untuk shalat berjamaah.

Ada ratusan orang yang biasanya berkumpul dan mereka terpaksa shalat di pinggir jalan. Itu pun masih dilarang oleh otoritas lokal. Mereka telah melayangkan protes namun hasilnya nihil.

Seorang guru madrasah, Bo Gyi mengatakan tidak tahu kapan sekolah bisa dibuka lagi. Padahal ada 300 anak yang mengenyam pendidikan di sana. "Kami telah menulis surat pada presiden dan kepala menteri Yangon, tapi tidak ada balasan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA