Senin 31 Jul 2017 16:46 WIB

Penelitian: 16 Masjid Ditemukan Dukung ISIS

Rep: Koresponden ABC di Indonesia Samantha Hawley dan Ake Prihantari/ Red: Budi Raharjo
kepala tim peneliti yang juga adalah analis mengenai tindak terorisme Indonesia Adhe Bhakti
Foto: ABC News
kepala tim peneliti yang juga adalah analis mengenai tindak terorisme Indonesia Adhe Bhakti

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Belasan masjid di Indonesia saat ini diawasi oleh pihak keamanan karena diduga mendukung kelompok teroris ISIS, menyebarkan ideologi mereka dan merekrut pejuang untuk pergi ke Suriah. Menurut laporan yang diperoleh ABC, ada 41 masjid di 16 provinsi yang dipantau, seperti terungkap dalam laporan penelitian yang dilakukan atas nama pemerintah.

Dari semua itu, 16 masjid di tujuh provinsi secara resmi dinyatakan sebagai pendukung kelompok ISIS oleh tim peneliti yang terus memantau tempat-tempat ibadah ini secara rahasia. Dalam wawancara eksklusif dengan ABC, kepala tim peneliti yang juga adalah analis mengenai tindak terorisme Indonesia Adhe Bhakti mengatakan, pesantren dan kelompok pengajian juga digunakan untuk menyebarkan ideologi ISIS yang radikal. "Kami menemukan berbagai penggunaan masjid yang berbeda," katanya.

"Beberapa masjid murni digunakan untuk menyebarkan ideologi. Yang lain digunakan sebagai tempat untuk konsolidasi, dan bahkan pengurus masjid (marbot) akan bertindak sebagai agen perjalanan bagi mereka yang ingin ke Suriah," ujar dia memaparkan. "Mereka bahkan mengumpulkan dana bagi yang tidak memiliki dana untuk ke sana, sehingga mereka bisa pergi ke Suriah."

Selama beberapa bulan, Bhakti dan timnya mendatangi masjid dan pengajian, dengan berpura-pura menjadi jamaah, dan mencatat khutbah dan diskusi yang sedang berlangsung. "Kami adalah anggota kelompok pengajian. Kami ikut kegiatan mereka. Kami mewawancarai jamaah yang hadir, jadi kami mengumpulkan informasi dengan berbagai cara," katanya. "Kami mengamati langsung, atau lewat sumber-sumber, dan juga dari wawancara yang kami lakukan."

Berpindah ke 'bawah tanah'

Bhakti mengatakan kadang mereka berhasil merekam isi pembicaraan dari berbagai pertemuan tersebut, namun mereka tidak bisa memberikannya kepada ABC karena rekaman itu milik pemerintah Indonesia.

Bulan Februari tahun lalu, ABC secara ekslusif merekam gambar di masjid As-Syuhada di Jakarta di mana usaha untuk mengumpulkan pejuang ISIS sedang dilakukan.

Menurut Bhakti, hal seperti itu hampir tidak mungkin dilakukan lagi sekarang, karena kelompok-kelompok ini melakukan pertemuan lebih berhati-hati, dan kadang dilakukan di rumah pribadi.

Dalam penelitiannya, Bhakti memberikan tiga kategori masjid dalam hal ini.

1. Masjid umum yang digunakan pendukung ISIS tanpa sepengatahuan marbotnya.

2. Masjid dimana marbotnya memiliki hubungan dengan kelompok yang mendukung ISIS namun jamaahnya tidak

3. Masjid pribadi dimana marbot dan jamaahnya mendukung kelompok ISIS

"Bagi kelompok radikal, pertemuan langsung merupakan hal yang penting, karena mereka baru bisa membangun saling percaya setelah bertemu muka langsung," kata Bhakti. "Mereka tidak melakukannya online, karena online bisa jadi siapa saja."

Membantah

ABC mengunjungi masjid Ibnu Masud di Kota Bogor untuk bertemu pengurusnya. Masjid tersebut adalah salah satu dari 16 masjid dalam penelitian itu dinyatakan oleh peneliti sebagai pendukung ideologi ISIS. Tiga jamaahnya ditangkap di Singapura tahun ini dan dipulangkan dengan tuduhan berusaha pergi ke Suriah.

"Orang bisa menuduh apa saja. Tetapi di sini kami tidak merekrut atau mengirim orang ke Suriah," kata juru bicara mesjid tersebut, Jumadi.

Jumadi juga menjalankan pesantren di tempat tersebut yang memiliki sekitar 250 murid. "Silahkan saja, orang boleh saja menuduh kami melakukan apa saja, karena mereka semua memiliki kepentingan masing-masing," katanya, mengijinkan ABC mengambi gambar di pesantren tersebut. "Kepala polisi di sini sudah datang dan memeriksa, kami hanya pesantren biasa."

Australia serukan kerja sama

Di Masjid Al Jihad di Bukittinggi Sumatra Barat, ABC mendapat laporan bahwa pengajian dipindahkan ke sebuah rumah di dekat masjid, setelah marbotnya ditangkap karena mengirimkan orang ke Suriah.

"Mereka pindah ke masjid lebih kecil atau pengajian lebih kecil, yang kami sebut masjid satelit atau tempat satelit," kata Bhakti. "Jadi jumlah masjidnya bisa lebih besar."

Akhir pekan kemarin di Kota Manado (Sulawesi Utara), Jaksa Agung Australia George Brandis menghadiri pertemuan regional guna mendiskusikan cara menanggulangi ancaman atas kembalinya para pejuang dari Timur Tengah dan Filipina.

Senator Brandis mengatakan berlanjutnya konflik di Kota Marawi, Filipina Selatan menjadi ancaman nyata bagi Indonesia, dan ancaman umum termasuk bagi Australia. "Konflik di Marawi mengingatkan kita pada kemungkinan ancaman yang nyata dan dekat yang kita semua hadapi," kata Brandis.

Dalam tiga bulan terakhir, Polri sudah meningkatkan penahanan yang berhubungan dengan terorisme mencapai lebih dari 35 orang. Salah seorang yang ditahan tersebut adalah Ari Jihadi, saudara laki-laki pelaku pembom kedutaan Australia Iwan Darmawan, yang lebih dikenal dengan nama Rois dan sekarang dipenjara di Nusa Kambangan setelah dijatuhi hukuman mati.

Dari dalam penjara, Rois menjadi salah satu perencana utama serangan teroris di Jakarta Januari 2016. ABC berhasil melacak keberadaan istri Ari Jihadi, Heni, yang sekarang tinggal di Desa Teluk di Banten.

Heni membantah mengetahui rencana tindakan terorisme yang dilakukan suaminya. "Pada awalnya saya terkejut, tentu saja, karena saya selalu bersama suami setiap hari, dan dia akan membawa saya kemanapun dia pergi," kata Heni (35 tahun) kepada ABC. "Ini sulit sekali tetapi inilah realitasnya, dan saya harus menghadapinya, saya harus siap." 

Ketika ditanya apakah suaminya teroris seperti saudara laki-lakinya, Heni menjawab "saya kira tidak."

Diterjemahkan pukul 12:40 AEST 31/7/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/mesjid-yang-mendukung-is-di-indonesia-dipantau/8759286
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement