Jumat 25 Aug 2017 08:10 WIB

16 Staf Kedutaan AS di Kuba 'Budek' Mendadak

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah
Bendera Kuba dan AS.
Foto: huffingtonpost.co.uk
Bendera Kuba dan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA - Sedikitnya 16 staf Kedutaan Besar AS di Kuba menderita gejala kehilangan pendengaran secara mendadak, pada Kamis (24/8). Gejala ini kemungkinan disebabkan oleh serangan akustik yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Kuba.

Juru bicara Kedutaan Besar AS di Kuba Heather Nauert mengatakan beberapa anggota staf memerlukan perawatan setelah mengalami gejala kehilangan pendengaran. Menurutnya, saat ini serangan akustik tersebut tampaknya telah berhenti.

Pemerintah Kuba membantah menargetkan diplomat asing dan mengatakan sedang menyelidiki tuduhan tersebut. Kehilangan pendengaran yang dialami diplomat dapat dikaitkan dengan perangkat sonik yang mengeluarkan gelombang suara yang tidak terdengar dan dapat menyebabkan tuli.

"Kami dapat memastikan setidaknya 16 pegawai pemerintah AS, anggota komunitas kedutaan kami, telah mengalami beberapa jenis gejala. Kami menangani situasi ini dengan sangat serius," kata Nauert seperti dikutip BBC.

Korban, yang beberapa di antaranya telah ditarik dari Kuba, telah dirawat di AS. Ada juga yang dirawat oleh dokter AS di Kuba. Staf kedutaan AS dan setidaknya satu warga Kanada juga mengalami gejala yang sama pada akhir tahun lalu.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson telah menggambarkan insiden tersebut sebagai "serangan kesehatan". Yang menonjol adalah insiden tersebut terus berlanjut bahkan saat pihak berwenang Kuba sedang menyelidiki penyebabnya.

Saat ini penyelidikan yang dilakukan Amerika, Kanada, dan Kuba, difokuskan di sekitar tempat tinggal para diplomat di Havana. Analis keamanan percaya negara ketiga yang memiliki hubungan permusuhan dengan AS mungkin terlibat, namun belum ada gambaran yang jelas.

Washington mengusir dua diplomat Kuba dari AS sebagai tanggapan atas insiden tersebut. Washington dan Havana baru membangun kembali hubungan diplomatik pada 2015, setelah 50 tahun terlibat permusuhan antara kedua negara.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement