Senin 11 Sep 2017 10:34 WIB

OKI: Islam Agama Penuh Intelektualitas 

Rep: Puti Almas/ Red: Teguh Firmansyah
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mendampingi Wapres Jusuf Kalla untuk menghadiri konferensi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tentang Pengembangan Iptek di Astana, Kazakhstan, Sabtu siang waktu setempat, (9/9).
Foto: istimewa
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mendampingi Wapres Jusuf Kalla untuk menghadiri konferensi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tentang Pengembangan Iptek di Astana, Kazakhstan, Sabtu siang waktu setempat, (9/9).

REPUBLIKA.CO.ID, International JEDDAH -- Pertemuan Puncak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang bertema tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) diselenggarakan mulai Ahad (10/9) di Ibu Kota Astana, Kazakhstan.

Seluruh negara peserta anggota saat ini tengah melakukan persiapan dalam mengadopsi dokumen kerja yang nantinya dibahas dan dipertimbangkan dalam ajang tersebut. 

Dalam sebuah pidato sebelum pembukaan KTT OKI tentang IPTEK, Sekretaris Jenderal OKI Yousif Al-Othaimeen mengatakan, pertemuan ini adalah acara bersejarah.

Ini menjadi yang pertama bagi seluruh negara anggota dan didedikasikan untuk mempromosikan dan mengembangkan sains dan teknologi. Selain itu, hal ini akan menjadi alat pemberdayaan serta faktor-faktor pendorong pembangunan sosial dan ekonomi berkelanjutan.

"KTT OKI tentang IPTEK yang pertama kalinya digelar ini merupakan sesuatu yang unik, di mana ini sekaligus menekankan bahwa Islam adalah agama yang memiliki intelektualitas dan tentunya pengetahuan ilmiah dengan tujuan membebaskan orang-orang dari segala sesuatu yang buruk," ujar Othaimeen seperti dilansir Arab News, Ahad (10/9).

Ia juga menuturkan tentang bagaimana pengembangan dokumen OKI dilakukan dengan terlebih dahulu melalui diskusi intensif 157 ilmuwan dan pakar teknis dari 20 negara anggota.

Menurut Othaimeen ini memuat segala tentang sains dan teknologi baru, lengkap dengan catatan mengenai konsekuensi sosial dan ekonomi dari hal itu.

Dokumen tersebut juga mencakup program ilmiah yang dapat diterapkan bersama oleh banyak negara. Ia menekankan bahwa semua program itu akan menjadi faktor utama dalam membangun ekonomi di negara-negara anggota.

"Dokumen ini tentunya berisi program yang akan menjadi faktor pemberdayaan utama untuk membangun ekonomi berkelanjutan di seluruh negara anggota dan keberhasilan sepenuhnya," jelas Othaimeen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement