Selasa 07 Nov 2017 15:57 WIB

Ini Klarifikasi Iran Soal Rudal Mengarah ke Riyadh

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah
Gerilyawan Houthi (ilustrasi)
Foto: EPA/Yahya Arhab
Gerilyawan Houthi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran membantah telah terlibat dalam serangan sebuah rudal ke Kota Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (4/11) malam. Rudal tersebut berhasil digagalkan sebelumnya sampai ke target.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin (6/11), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qassemi mengatakan tuduhan itu sangat jahat dan provokatif. Tembakan rudal tersebut telah diklaim dilakukan oleh kelompok Houthi dari arah Yaman.

"Orang-orang Saudi, yang telah gagal mencapai tujuan jahat mereka selama agresi militer jangka panjang di Yaman, membuat lebih banyak masalah dengan serangan psikologis, yaitu membuat tuduhan tanpa dasar dan benar-benar palsu," ujar Qassemi.

Sebelumnya koalisi pimpinan Arab Saudi, yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman menuding Iran terlibat dalam upaya serangan ke Riyadh.

 Ia kemudian menyerukan perundingan antara faksi-faksi Yaman yang bersaing untuk mengakhiri konflik. Komentar Qassemi disampaikan tak lama setelah Arab Saudi menyatakan mengutuk agresi militer milisi Houthi yang didukung Iran dan mengklaim memiliki bukti keterlibatan Iran dalam serangan rudal tersebut.

 

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif juga menolak tuduhan Arab Saudi itu. Dia bahkan mengatakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump adalah penyebab ketegangan regional baru-baru ini di Timur Tengah. "Riyadh terlibat dalam perang agresi, intimidasi regional, perilaku yang tidak stabil, dan provokasi yang berisiko," ungkap Zarif, dikutip Aljazirah.

 

Seorang pejabat Arab Saudi menyebut serangan itu berpotensi menjadi perang. "Peran Iran dan komando langsungnya terhadap Houthi dalam hal ini merupakan tindakan agresi yang jelas," ujar dia, yang berbicara secara anonim.

 

Arab Saudi mengatakan akan menutup semua pintu masuk darat, udara, dan laut ke Yaman, saat melakukan penyelidikan mengenai bagaimana rudal tersebut bisa diselundupkan ke pemberontak Houthi.

 

Arab Saudi memasuki konflik Yaman pada 2015, setelah pemberontak Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa dan memaksa Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi melarikan diri.

 

Bersama koalisi negara-negara Arab lainnya dan dengan dukungan logistik dari AS, Arab Saudi berhasil mendorong Houthi dari kota pelabuhan Aden, namun gagal mengusir mereka dari Sanaa. Riyadh telah lama menyalahkan Iran karena diduga mempersenjatai Houthi.

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement