Rabu 08 Nov 2017 08:42 WIB

Gelombang Baru Pertarungan Saudi Versus Iran

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah
Ilustrasi Saudi vs Iran.
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Saudi vs Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi menuduh Iran melakukan agresi militer langsung melalui pemberontak Houthi di Yaman. Pernyataan yang disampaikan putra mahkota Saudi, Mohammed bin Salman ini mengacu pada rudal yang ditembakkan akhir pekan lalu ke Riyadh dari Yaman.

Menurut Saudi, Iran telah memasok senjata tersebut. Sementara pihak Houthi telah memberi peringatan bahwa bandara Saudi dan UEA bisa menjadi target penembakan berikutnya.

Seperti dikutip Aljazirah, Selasa (7/11) Iran selama ini dikenal mendukung pemberontak Houthi di Yaman. Namun Teheran membantah mempersenjatai mereka. Iran juga menyebut tudingan Saudi tak berdasar.

Adapun koalisi militer pimpinan-Saudi melakukan perang dengan pemberontak Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa pada Maret 2015. Perang telah menewaskan lebih dari 10 ribu warga sipil, memaksa tiga juta orang meninggalkan rumah mereka, dan membuat jutaan orang Yaman hidup dalam kemiskinan.

Bandara internasional utama Yaman, di ibu kota pemberontak, Sanaa, telah ditutup sejak Agustus 2016 atas perintah koalisi tersebut.

Tak hanya di Yaman, Arab Saudi ingin mengekang pengaruh Iran di seluruh jazirah Arab. Di Irak, Iran memiliki kekuatan paramiliter lebih kuat daripada yang dimiliki pemerintah. Di Suriah, Iran memiliki Garda Revolusi dan pejuang Hizbullah yang mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Dan di Lebanon, Iran juga mendukung gerakan  bersenjata Hizbullah. Pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri, pada Sabtu menunjukkan bagaimana pertarungan antara Iran dan Saudi. Saad Hariri yang mendapat dukungan dari Saudi mengaku mundur karena diancam akan dibunuh. Hal itu memicu gelombang politik ketidakpastian baru di Lebanon.

Hariri belum kembali ke negaranya sejak pengunduran dirinya. Sebagai ganti dia telah melakukan perjalanan ke Abu Dhabi, sekutu Saudi di kamp anti-Iran, untuk pembicaraan mengenai krisis politik yang semakin meningkat di negaranya.

Hizbullah di Lebanon bukan hanya sekedar kelompok bersenjata melainkan partai politik dengan dukungan rakyat yang kuat. Dan dalam beberapa tahun terakhir, ia telah memperluas pengaruhnya di luar perbatasan Lebanon.

Keputusan Hizbullah untuk mengirim pasukan untuk berperang bersama pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad telah lama menjadi isu kekhawatiran di antara beberapa faksi Lebanon. Namun, mereka dengan keras menolak seruan untuk melucuti senjata dan menarik diri dari Suriah.

Iran pun kini telah mengamankan sebuah koridor yang membentang dari Teheran melalui Irak dan Suriah sampai ke Lebanon. Arab Saudi berharap dapat mengubah keseimbangan kekuasaan tersebut.

Tidak jelas tindakan apa yang akan dilakukan Arab Saudi nantinya. Seorang analis politik, George Alam mengatakan Arab Saudi, melalui ancamannya, menginginkan Pemerintahan Lebanon dan orang-orang untuk menghancurkan Hizbullah. Ini adalah undangan untuk perang saudara. "Ada front baru - Saudi, Israel dan AS - melawan Iran." katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement