Jumat 10 Nov 2017 09:54 WIB

Suriah Umumkan Menang Lawan ISIS

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah
Pemimpin ISIS  Abu Bakr al-Baghdadi.
Foto: Reuters
Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Tentara Suriah mengumumkan kemenangan mereka atas ISIS pada Kamis (9/11). Tentara Suriah mengatakan perebutan kembali kota-kota terakhir yang dikuasai ISIS di negara tersebut menandai runtuhnya masa tiga tahun ISIS di wilayah tersebut.

Tentara dan sekutu-sekutunya masih memerangi ISIS di daerah gurun dekat Albu Kamal, kota terakhir yang dimiliki kelompok militan di Suriah, dekat perbatasan dengan Irak.

Perebutan kota tersebut mengakhiri era pemerintahan ISIS yang diproklamirkan pada 2014 di Irak dan Suriah dan di mana jutaan orang telah menderita akibat aksi radikalnya. Setelah pertempuran defensif di kota-kota terpenting tahun ini, keruntuhan ISIS terjadi begitu cepat.

ISIS sempat menyatakan akan berperang sampai mati saat di lembah Efrat, kota-kota dan desa-desa di dekat perbatasan antara Irak dan Suriah. Namun pada kenyataannya, banyak militan ISIS menyerah atau melarikan diri.

"Ada beberapa militan yang tersisa tapi jumlahnya sedikit. Jumlah kecil hanya bisa saya katakan. Beberapa terbunuh dan ada yang lari. Mereka pergi ke desa timur atau utara," kata seorang komandan tentara Suriah dari militan yang tersisa di dekat Albu Kamal.

Adapun nasib komandan terakhirnya masih belum diketahui.

Penampilan terakhir Abu Bakr al-Baghdadi, yang menyatakan dirinya sebagai khalifah dan pewaris pemimpin bersejarah Islam dari masjid abad pertengahan besar di Mosul Irak, dibuat dalam sebuah rekaman audio pada September.

Mosul jatuh ke pasukan Irak pada Juli setelah pertempuran sembilan bulan. Sementara itu, Raqqa berhasil direbut pada Oktober oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), aliansi yang didukung AS dari milisi Kurdi dan Arab, setelah empat bulan pertempuran.

Tapi semua kekuatan yang memerangi ISIS di Suriah dan Irak mengharapkan fase baru perang gerilya, sebuah taktik yang telah ditunjukkan oleh militan untuk dapat melakukan operasi bersenjata di kedua negara.

Pemimpin keamanan Barat juga mengatakan hilangnya wilayah yang dikuasai ISIS tidak berarti mengakhiri serangan tunggal dengan senjata api, pisau atau truk yang menghantui penduduk sipil karena pendukung ISIS tersebar di seluruh dunia.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement