Kamis 16 Nov 2017 16:26 WIB

Angelina Jolie Angkat Bicara Soal Kekejaman ke Rohingya

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Artis Angelina Jolie.
Foto: AP/Michael Sohn
Artis Angelina Jolie.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA -- Artis Angelina Jolie mengutuk kekerasan seksual yang diderita para perempuan Rohingya. Hal tersebut ia sampaikan dalam pidatonya di Konferensi Penjaga Perdamaian PBB Tingkat Kementerian Pertahanan di Vancouver, Kanada, Rabu (15/11).

Jolie mengatakan kekerasan seksual yang dilakukan militer Myanmar terhadap perempuan Rohinhya jelas merupakan tindakan yang disengaja.

"Ini adalah pemerkosaan dan penyerangan yang dirancang untuk menyiksa, meneror, dan memaksa orang melarikan diri, serta mempermalukan mereka," kata perempuan yang juga jadi utusan khusus Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dalam pidatonya.

"Ini tidak ada hubungannya dengan seks. Ini semua berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan. Ini jelas tindakan kriminal," ujar Jolie menambahkan.

Ia pun menyampaikan kepada delegasi Bangladesh yang menghadiri konferensi tersebut bahwa dirinya akan mengunjungi korban kekerasan seksual Rohingya. Namun tak diterangkan kapan kunjungan itu akan dilakukan.

Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kekerasan Seksual dalam Konflik, Pramila Patten, mengatakan akan menuntut militer Myanmar dan menyeretnya ke Pengadilan Pidana Internasional di Den Haag, Belanda.

Ia menilai tindakan ini relevan dan patut dilakukan setelah banyaknya laporan dan pengakuan dari perempuan Rohingya yang mengaku diperkosa secara brutal oleh pasukan keamanan Myanmar.

Pada Rabu, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengatakan negaranya akan mengatasi hambatan untuk menyelesaikan krisis Rohingya. Ia optimistis hal ini dapat dilakukan dengan bantuan internasional.

"Saya sangat yakin kita akan menemukan solusi damai untuk mengatasi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan bantuan masyarakat internasional, terlepas dari berbagai hambatannya," kata Shekih Hasina.

Saat ini lebih dari 600 ribu pengungsi Rohingya tinggal di tenda-tenda dan kemah di zona perbatasan Bangladesh. Sebagian besar dari mereka mengalami trauma akibat kekejaman militer Myanmar. Kini para pengungsi menggantungkan hidupnya pada bantuan kemanusiaan dari dunia internaional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement