Jumat 24 Nov 2017 20:13 WIB

Mnangagwa Dilantik Sebagai Presiden Zimbabwe

Rep: Marniati/ Red: Budi Raharjo
Emmerson Mnangagwa diambil sumpahnya sebagai presiden di Harare, Zimbabwe, Jumat (24/11).
Foto: Reuters
Emmerson Mnangagwa diambil sumpahnya sebagai presiden di Harare, Zimbabwe, Jumat (24/11).

REPUBLIKA.CO.ID,HARARE -- Emmerson Mnangagwa dilantik sebagai presiden Zimbabwe pada Jumat di depan ribuan pendukung di stadion nasional Harare. Dalam sumpah jabatannya, pria berusia 75 tahun ini berjanji untuk menegakkan konstitusi bekas koloni Inggris dan melindungi hak-hak dari 16 juta warga Zimbabwe.

Dalam pidatonya Mnangagwa mengatakan pemilihan akan berlangsung tahun depan. Ia juga mengakui adanya kesalahan di bawah kepemimpinan Mugabe.

Mnangagwa juga memuji semangat rakyat Zimbabwe yang membuat Mugabe harus mengakhiri masa jabatannya yang sudah berlangsung selama 38 tahun. Ia meminta masyarakat untuk tidak melakukan aksi balas dendam atas apa yang telah dilakukan Mugabe selama hampir empat dekade yang lalu.

Namun, banyak pihak yang ragu akan perubahan besar Zimbabwe ditangan Mnangagwa, mengingat ia adalah orang yang setia pada Mugabe selama berpuluh-puluh tahun. Ia juga dituduh melakukan pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia dan kebijakan ekonomi yang merugikan.

Secara khusus, mereka mempertanyakan peran Mnangagwa dalam pembantaian Gukurahundi di Matabeleland pada 1983. Sekitar 20 ribu orang tewas dalam sebuah tindakan keras terhadap lawan Mugabe oleh Brigade Kelima yang dilatih Korea Utara.

Mnangagwa bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri, namun ia membantah menjadi bagian dalam kekejaman tersebut. Sejak kembali ke Zimbabwe bulan ini Mnangagwa selalu menyampaikan soal demokrasi, toleransi dan penghormatan terhadap peraturan hukum. "Orang-orang telah berbicara. Suara rakyat adalah suara Tuhan, "katanya kepada ribuan pendukung pada Rabu di markas partai ZANU-PF yang berkuasa.

Namun, perlakuan kasar tentara terhadap beberapa pengikut Mugabe seperti mantan menteri keuangan Ignatius Chombo menimbulkan kekhawatiran tentang komitmen sejati Mnangagwa terhadap demokrasi. Menurut pengacara Chombo, kliennya dirawat di rumah sakit pada Jumat karena insiden pemukulan di tahanan militer "Ini cara yang sangat brutal dan kejam dalam menghadapi lawan," kata pengacara Chombo, Lovemore Madhuku, kepada Reuters.

Mugabe, kepala pemerintahan tertua di dunia, mengundurkan diri pada Selasa saat parlemen mulai memintanya atau sepekan setelah tentara merebut kekuasaan. Menurut salah seorang sumber terdekat, Mugabe bersedia mengundurkan diri asalkan keselamatan dirinya tetap terjamin saat berada di Zimbabwe.

Kejatuhan Mugabe yang tiba-tiba dipicu oleh sebuah persaingan untuk menggantikannya yang melibatkan Mnangagwa dan istri Mugabe yang jauh lebih muda yakni Grace Mugabe.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement