Jumat 01 Dec 2017 15:38 WIB

Trump Pertimbangkan Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

Rep: Marniati/ Red: Gita Amanda
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Foto: KEVIN LAMARQUE/REUTERS
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Donald Trump mempertimbangkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Kebijakan Trump ini juga menyimpang dari pendahulu Gedung Putih yang telah bersikeras bahwa masalah ini harus diputuskan dalam perundingan damai.

 

Menurut pejabat AS, Trump diperkirakan akan menunda janji kampanyenya untuk memindahkan kedutaan AS di Israel. Setelah berbulan-bulan mengadakan perundingan, Trump kemungkinan akan membuat pengumuman pekan depan yang berusaha menyeimbangkan antara tuntutan politik domestik dan tekanan geopolitik mengenai status Yerusalem yang merupakan rumah bagi situs suci untuk Yahudi, Muslim dan Kristen.

 

Dilansir Reuters, langkah Trump tersebut akan membuat orang-orang Palestina dan juga dunia Arab yang lebih luas menjadi marah. Selain itu, langkah tersebut kemungkinan besar akan merusak usaha Pemerintahan Trump yang baru memulai kembali perundingan damai Israel-Palestina.

 

Namun, hal itu bisa memuaskan basis pro-Israel dan sayap kanan yang membantu Trump memenangkan kursi kepresidenan dan juga membantu pemerintah Israel, sebagai sekutu dekat AS.

 

Menurut para pejabat AS Trump kemungkinan akan melanjutkan kebijakan pendahulunya untuk menandatangani pembebasan enam bulan yang mengesampingkan undang-undang 1995 yang mengharuskan Kedutaan Besar AS untuk dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

 

Namun di antara pilihan yang dipertimbangkan adalah Trump memerintahkan pembantunya untuk mengembangkan rencana jangka panjang untuk relokasi kedutaan tersebut. Tapi pejabat AS mengatakan rencana tersebut belum selesai dan Trump masih dapat mengubahnya.

 

"Belum ada keputusan mengenai hal itu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert pada Kamis (30/11).

 

Trump berjanji pada kampanye presiden tahun lalu bahwa dia akan memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Tapi Trump pada Juni melepaskan persyaratan tersebut, dengan mengatakan dia ingin memaksimalkan peluang untuk dorongan perdamaian yang dipimpin oleh Jared Kushner.

 

Para pemimpin Palestina, pemerintah Arab dan sekutu Barat telah lama mendesak Trump untuk tidak melanjutkan relokasi kedutaan karena hal tersebut memberikan pengakuan de facto AS atas klaim Israel atas seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya. Namun, jika Trump memutuskan untuk mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel maka dipastikan akan memicu kegaduhan internasional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement