Ahad 31 Dec 2017 07:35 WIB

Dua Orang Tewas dalam Unjuk Rasa di Iran

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Muhammad Subarkah
Polisi anti huru-hara Iran siaga setelah membubarkan demonstrasi warga Teheran yang memprotes kenaikan harga-harga (3/10).
Foto: AFP
Polisi anti huru-hara Iran siaga setelah membubarkan demonstrasi warga Teheran yang memprotes kenaikan harga-harga (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Unjuk rasa masih berlanjut hingga hari ketiga di Iran, pada Sabtu (30/12). Di Kota Dorud di barat Iran, dua demonstran dilaporkan tewas dalam bentrokan.

Video yang diunggah di media sosial menunjukkan dua pemuda terbaring tak bergerak di tanah, dipenuhi dengan darah. Ahli sulih suara mengatakan mereka telah ditembak mati oleh polisi anti huru hara.

Demonstran lain di video tersebut meneriakkan, "Saya akan membunuh siapa pun yang membunuh saudaraku!" Dalam cuplikan sebelumnya, demonstran banyak yang berteriak, "Kematian diktator," mengacu pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Demonstran juga terlihat menggulingkan sebuah mobil polisi anti huru hara dan membakar sepeda motor polisi. Namun video tersebut belum dapat diverifikasi.

Sementara di ibu kota Teheran, para demonstran terlibat bentrok dengan polisi dan menyerang beberapa bangunan milik negara. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan, sebanyak 70 siswa berkumpul di depan universitas utama Teheran dan melemparkan batu ke arah polisi.

Polisi anti huru hara menggunakan senjata untuk membubarkan lebih banyak demonstran yang berbaris di jalan-jalan dan menangkap beberapa dari mereka. Kantor berita mahasiswa ISNA mengatakan, polisi telah menutup dua stasiun metro untuk mencegah lebih banyak demonstran yang datang.

Wakil Kepala Keamanan Garda Revolusi di Teheran, Brigadir Jenderal Esmail Kowsari, mengklaim situasi di ibu kota telah terkendali. Ia memperingatkan, demonstran akan menghadapi "kepalan tangan besi negara" jika kerusuhan terus berlanjut.

"Jika orang-orang datang ke jalanan dengan serius, mereka seharusnya tidak meneriakkan slogan-slogan (anti-pemerintah) itu dan membakar properti umum dan mobil," kata Kowsari kepada ISNA.

Protes politik secara terbuka jarang terjadi di Iran, yang disebabkan oleh ketidakpuasan atas tingginya tingkat pengangguran, inflasi, dan dugaan korupsi. Beberapa unjuk rasa telah mengubah isu-isu politik termasuk keterlibatan Iran dalam konflik regional seperti konflik di Suriah dan Irak.

Ketidakjelasan semakin meningkat dan inflasi tahunan berjalan sekitar 8 persen. Kekurangan beberapa makanan juga berkontribusi pada kenaikan harga dan kesulitan bagi banyak keluarga.

Menteri Dalam Negeri Ira. Abdolreza Rahmani-Fazli memperingatkan upaya mempromosikan demonstrasi melalui media sosial. "Kami meminta orang-orang untuk tidak ikut serta dalam unjuk rasa yang tidak sah. Jika mereka merencanakan unjuk rasa, mereka harus meminta izin," kata dia.

Pada Kamis (28/12), ratusan orang turun ke jalan di Kota Masyhad, salah satu tempat tersuci di Iran, untuk memprotes harga kebutuhan yang tinggi. Mereka meneriakkan slogan anti-pemerintah dan polisi menangkap 52 orang.

Pencapaian utama Presiden Hassan Rouhani, dalam kesepakatan 2015 dengan kekuatan dunia yang menahan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sebagian besar sanksi internasional, belum membawa manfaat ekonomi yang luas di Iran.

Pengangguran telah meningkat menjadi 12,4 persen di tahun fiskal ini, menurut Pusat Statistik Iran. Angka itu naik 1,4 persen dan menyebabkan sekitar 3,2 juta warga Iran menganggur.

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement