Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Apakah Yahudi Ashkenazi pantas mengklaim Tanah Suci Yerusalem?

Yahudi Aspal, Klaim Yerusalem, dan Kepalsuan Akhir Zaman

Kamis 04 Jan 2018 09:08 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Pemukim Yahudi di Israel (ilustrasi)

Pemukim Yahudi di Israel (ilustrasi)

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Harun Husein, Wartawan Republika

Salah satu ciri penting akhir zaman adalah merebaknya fitnah dan kepalsuan, dengan puncaknya adalah munculnya Al Masih Dajjal yang secara harfiah berarti Al Masih Palsu atau Anti-Kristus. Dan, kepalsuan tersebut, kini teramat jelas terlihat pada orang-orang Yahudi, negara Israel, dan klaim-klaimnya tentang tanah yang dijanjikan: Yerusalem dan Baitul Maqdis.

Betapa tidak, sebagian besar Yahudi zaman now yang kini menduduki Israel, dan mengklaim Yerusalem sebagai miliknya, ternyata bukanlah Yahudi yang sering kita baca dalam kitab suci.

Betapa pun mereka menganut agama Yahudi dan menggunakan nama Israel (yang merupakan nama dari Nabi Ya’kub) sebagai nama negara jajahannya, namun sebagian besar mereka sesungguhnya bukanlah keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub.  Bahkan mereka bukan keturunan Shem. Sehingga, apa yang mereka lakukan di Palestina, berupa perampasan wilayah, pembantaian para penghuninya yang merupakan anak cucu Shem, sesungguhnya adalah antisemitisme itu sendiri, betapapun mereka sering melakukan kampanye antisemitisme di Barat.

Seperti diketahui, dalam genealogi bangsa-bangsa disebutkan, ada tiga anak Nabi Nuh, yaitu Shem, Yafits (Japeth), dan Ham, yang merepopulasi dunia setelah kaum Nuh ditenggelamkan.  Shem merupakan nenek moyang bangsa-bangsa di Timur Tengah, Yafith nenek moyang orang Turki dan Eropa, sedangkan Ham adalah nenek moyang orang Afrika. Sebagian besar Yahudi saat ini, yang memobilisasi pendirian negara Israel di Palestina, ternyata juga bukan orang-orang dari bekas kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman di Yudea dan Samaria.

Sebagian besar mereka ternyata adalah orang lain, dari ras lain. Pendeknya, mereka bukan Yahudi yang sering kita baca dalam kitab suci.  Semua itu, dikonfirmasi oleh fakta sejarah dan penelusuran yang dilakukan peneliti sejarah termasuk oleh Ernest Renan, bahkan dibuktikan pula melalui hasil penelitian ilmiah.

Lalu, siapakah mereka? Mari kita periksa.

Yahudi Ashkenazi

Pertama-tama, mari kita lihat dunia Yahudi saat ini. Total populasi orang Yahudi di dunia pada tahun 2010 lalu adalah 13,4 juta jumlah orang. Sebagian besar orang Yahudi di dunia saat ini, adalah Yahudi Ashkenazi. Komposisinya di kisaran 60-80 persen.

Israel sendiri, berdasarkan data sensus tahun 2016, mempunyai penduduk sekitar 8,58 juta orang. Sebanyak 6,45 juta orang di antaranya atau 74,8 persen adalah Yahudi. Dari jumlah orang Yahudi tersebut, sekitar separuhnya adalah Yahudi Ashkenazi. Selebihnya adalah Yahudi Sephardi, Yahudi Mizrahi, dan lain-lain.

Sedangkan, penduduk lainnya adalah orang-orang Arab (Muslim, Kristen, Druze) dan lain-lain. Hampir semua pendiri negara Israel saat ini, adalah orang-orang Yahudi yang bermigrasi dari Eropa, khususnya Rusia, Eropa Timur, Eropa Tengah, dan sebagian Eropa Barat seperti Jerman.  Dan, hampir semuanya adalah Yahudi Ashkenazi. Mulai dari Chaim Weizmann (presiden pertama Israel), David ben Gurion (perdana menteri pertama Israel), hingga Benjamin Netanyahu (perdana menteri Israel saat ini). GalGadot, be kas tentara perempuan Israel, yang kini populer karena memerankan Wonder Wom an dalam film Hollywood, juga termasuk Yahudi Ashekenazi.



Yahudi Ashkenazi yang jumlahnya paling besar di Israel, adalah Yahudi first class. Penduduk Yahudi lainnya, diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, sedangkan orang-orang Arab, baik Muslim, Kristen, Druze, dan lain-lain, yang enggan pergi dari rumahnya sejak kawasan itu di-aneksasi Israel, juga mendapat diskriminasi, bahkan lebih buruk.

Aljazirah, dalam artikel bertajuk Israel's Great Divide, pada 13 Juli 2016, misalnya, mengungkapkan perlakuan diskriminatif terhadap Yahudi Mizrahi dan Yahudi Sephardi itu.  Diskriminasi itu juga ditulis oleh Times of Israel dengan judul Study Finds Huge Wage Gap Betwween Ashkenazim, Mizrahim.

Yahudi Mizrahi adalah Yahudi dari kawasan Timur Tengah, sedangkan Yahudi Sephardi adalah Yahudi Spanyol yang dulu merupakan bekas penduduk Andalusia, yang sebagiannya kemudian pindah ke Afrika, terutama Maroko, atau Anatolia yang saat wilayah itu dikuasai Khilafah Usmani, agar tidak dipersekusi dan diinquisisi saat wilayah itu direbut dari tangan Muslim.

Gugatan Ernest Renan

Salah satu gugatan telak tentang identitas orang-orang Yahudi Ashkenazi, datang dari salah seorang pencetus konsep negara bangsa (nation state), yaitu Ernest Renan (1823-1892). Filsuf dan sejarawan Prancis, yang juga pakar peradaban dan bahasa Semitic ini, adalah orang yang pertama mengemukakan Teori Khazaria, antara lain dalam tulisannya bertajuk Judaism as a Race and as Religionpada 1883.

Teori Khazaria yang dikemukakan Mahaguru Universitas Sorbonne, Prancis, tersebut, pada intinya, menyatakan, orang-orang Yahudi Ashkenazi adalah keturunan bangsa Khazar yang pernah eksis di Eurasia. “Mereka sesungguhnya adalah orang-orang Turki (bukan Kanaan), yang memeluk agama Yahudi. Dan, menyusul kehancuran Imperium Khazaria akibat serbuan Mongol, mereka bermigrasi ke Eropa.”

Tak seperti orang Yahudi Kanaan yang berbahasa Ibrani, orang Yahudi Khazaria berbahasa Yiddish. Dan, bahasa Yiddish itu pun tetap digunakan oleh orang Yahudi di Israel saat ini.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA