Kamis 11 Jan 2018 08:45 WIB

Trump Perparah Islamofobia

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ani Nursalikah
Demonstran memprotes perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang melarang Muslim dari tujuh negara memasuki AS. Protes berlangsung di depan Kedubes AS di Roma, Italia, 2 Februari 2017.
Foto: Alessandro Di Meo/ANSA via AP
Demonstran memprotes perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang melarang Muslim dari tujuh negara memasuki AS. Protes berlangsung di depan Kedubes AS di Roma, Italia, 2 Februari 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah studi menyebut kebijakan larangan Muslim Presiden Donald Trump memperburuk situasi islamofobia di Amerika Serikat. Trump membatasi pengunjung dan calon pengungsi dari enam negara mayoritas Muslim awal tahun lalu.

Para kritikus khawatir hal itu memicu gelombang tambahan islamofobia di seluruh Amerika Serikat. Hal itu juga mengintensifkan sentimen anti-Islam yang sudah sangat jelas dalam kampanye Trump.

Pada Rabu (10/1), media lokal Vox menyebut kebijakan itu membuat islamofobia menjadi panduan resmi kebijakan imigrasi Amerika. "Kebijakan ini melegitimasi xenofobia dan rasialisme," katanya.

Ini dimanfaatkan Trump untuk memenangkan kursi kepresidenan. Strategi Trump telah terbukti efektif. Larangannya telah menggembar-gemborkan sebuah gelombang baru insiden islamofobia di Amerika. Menurut Council on American Islamic Relations, 2017 menjadi salah satu tahun terburuk di Amerika untuk umat Islam.

photo
I am a Muslim Too: Pengunjukrasa membawa poster bergambar wanita berhijab bendera Amerika di sela unjuk rasa menolak kebijakan Anti Imigran Trump di Lapang Times Square New York, AS, (19/2) waktu setempat.

Kekerasan anti-Islam dan ujaran kebencian terhadap Muslim meningkat melebihi tahun setelah serangan 9/11. Sebuah studi yang diterbitkan pekan ini di jurnal Political Behavior menunjukkan larangan Muslim Trump memiliki kenaikan yang tidak terduga.

Studi digawangi ilmuwan politik Loren Collingwood, Nazita Lajevardi dan Kassra A.R. Oskooii dari University of California Riverside, Michigan State University dan University of Delaware. Para penulis menemukan wacana nasional tentang larangan Muslim juga mendorong beberapa responden mengubah sikap mereka terhadap Muslim.

"Pada akhirnya menyebabkan banyak orang Amerika yang sebelumnya mendukung atau bersikap netral terhadap isu larangan Muslim Trump jadi melawannya," kata mereka.

Tim tersebut mensurvei 423 orang pada awal 2017. Tepat sebelum dan sekitar satu pekan  setelah Trump menandatangani perintah eksekutif. Peneliti menyimpulkan media yang awalnya menolak larangan tersebut jadi mengevaluasi kembali pandangan mereka.

photo
I am a Muslim Too: Muslim Amerika tengah shalat di sela unjuk rasa menolak kebijakan Anti Imigran Trump di Lapang Times Square New York, AS, (19/2) waktu setempat.

Lebih dari 30 persen peserta mengatakan mereka merasa lebih mendukung tentang larangan tersebut sepekan setelah pengumuman. Padahal sepekan sebelum kebijakan diumumkan mereka menentangnya.

Hal ini mencolok karena menurut penulis penelitian, pergeseran signifikan dan mendadak dalam opini publik cenderung jarang terjadi. Mereka yang berubah pikiran cenderung sepakat orang Amerika harus didahulukan.

Ini menunjukkan debat publik yang menyebut 'larangan Muslim adalah tidak Amerika' atau 'bertentangan dengan nilai keterbukaan dan keramahan Amerika terhadap orang asing' tidak lagi signifikan. Pandangan ini telah berkontribusi pada pergeseran opini.

Dalam beberapa waktu setelah perintah eksekutif ditandatangani, tim juga melihat lingkungan informasi menjadi lebih kondusif. Tantangan terhadap larangan tersebut memang tetap banyak. Protes tetap ada, komentator media masih menentang dan elit berulang kali dan secara terbuka mengkritiknya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement