Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Ambulans Penuh Bom Meledak di Kabul, 95 Orang Tewas

Ahad 28 Jan 2018 08:40 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Andri Saubani

Para korban ledakan bom bunuh diri dirawat di sebuah rumah sakit di Kabul, Afghanistan, Sabtu (27/1).

Para korban ledakan bom bunuh diri dirawat di sebuah rumah sakit di Kabul, Afghanistan, Sabtu (27/1).

Foto: AP Photo/ Rahmat Gul
Ambulans tersebut berhasil melewati pos pemeriksaan polisi di sebuah zona aman.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Sebuah bom bunuh diri meledak di ibu kota Afghanistan, Kabul, Sabtu (27/1). Bom ini sedikitnya menewaskan 95 orang dan melukai 158 orang lainnya.

Serangan bom dilakukan dengan menggunakan sebuah mobil ambulans yang penuh dengan bahan peledak. Ambulans tersebut berhasil melewati pos pemeriksaan polisi di sebuah zona aman yang menjadi tempat bagi kantor pemerintahan dan kedutaan asing.

Sasaran utama bom tersebut diyakini untuk orang-orang di dalam gedung Kementerian Dalam Negeri. Namun, orang-orang yang lewat disekitarnya juga ikut menjadi korban. Taliban mengaku bahwa mereka adalah dalang di balik penyerangan tersebut.

Serangan ini disebut sebagai serangan paling mematikan selama berbulan-bulan. Sepekan yang lalu mereka juga melakukan serangan dan membunuh 22 orang di sebuah hotel mewah di Kabul.

Para saksi mata menyatakan, bahwa area tersebut penuh dengan orang-orang ketika bom meledak pada Sabtu pukul 12:15 waktu setempat. Nasrat Rahimi selaku juru bicara dari Kementerian Dalam Negeri menyatakan pelaku pengeboman dapat melewati pos penjagaan setelah memberi tahu polisi ia perlu membawa pasien ke Rumah Sakit Jamhuriat yang lokasinya di area itu.

"Pelaku meledakkan bom di pos penjagaan kedua," ujar Rahimi seperti yang dilansir dari BBC.

Pos penjagaan sendiri tidak mudah untuk dilewati begitu saja. Mobil dan pengemudinya harus diperiksa dan dilihat identitasnya. Sebuah Komite Internasional Palang Merah menyatakan penggunaan ambulans dalam penyerangan tersebut adalah hal yang mengerikan.

Mirwais Yasini yang merupakan saksi mata mengatakan bahwa daerah tersebut terlihat seperti daerah tukang daging atau jagal sesudah bom terjadi. Dirinya sedang berada di rumah untuk menikmati makan siang dan terletak beberapa meter dari lokasi pengeboman.

"Awalnya aku mengira itu ada di dalam rumah kami. Lalu aku keluar dan aku melihat mayat tersebar dimana-mana. Ini sangat tidak manusiawi," ujarnya.

Pemerintah Afghanistan sendiri telah mengutuk pemboman tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka menuduh Pakistan memberi dukungan terhadap para penyerang ini.

Taliban sendiri menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan dan beberapa bagian dari negara tetangga Pakistan. Pakistan telah menyangkal pihaknya memberi bantuan kepada para pelaku pengeboman tersebut. Bulan ini saja AS telah memotong bantuan keamanannya ke Pakistan dengan alasan bahwa mereka telah gagal melakukan tindakan terhadap jaringan teroris di wilayahnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA