Selasa 20 Mar 2018 13:01 WIB

AS Kecam Abbas

ecaman ini berkaitan dengan penghinaan Abbas terhadap Duta Besar AS.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Winda Destiana Putri
Presiden Palestina Mahmoud Abbas
Foto: VOA
Presiden Palestina Mahmoud Abbas

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS), pada Senin (19/3), mengecam Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Kecaman ini berkaitan dengan penghinaan Abbas terhadap Duta Besar AS untuk Israel David Friedman yang disebutnya sebagai anak anjing.

"Waktunya telah tiba bagi Presiden Abbas untuk memilih antara retorika kebencian atau upaya konkret dan praktis untuk meningkatkan kualitas hidup rakyatnya serta memimpin mereka menuju perdamaian dan kemakmuran," kata utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt, dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Al Arabiya.

Greenblatt mengatakan Friedman merupakan rekan dekatnya. Ia menganggap penghinaan Abbas terhadap Friedman sangat tidak pantas. Kendati demikian, kejadian tersebut tak akan melunturkan niat dan komitmen AS untuk membantu Palestina menyelesaikan konfliknya dengan Israel.

"Kami berkomitmen untuk rakyat Palestina dan untuk perubahan yang harus dilaksanakan untuk hidup berdampingan (dengan Israel) secara damai," ujar Greenblatt.

Sebelumnya, dalam sebuah pertemuan para pemimpin Palestina di Ramallah, Abbas menghina Friedman dengan menyebutnya seorang pemukim dan anak anjing. Hinaan ini merupakan ekspresi kekecewaan dan kemarahan Abbas terhadap Friedman yang dianggapnya mendukung proyek pembangunan permukiman ilegal Israel di tanah Palestina yang diduduki.

Hubungan antara Palestina dan AS saat ini memang sedang tidak harmonis. Hal ini terjadi sejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017 lalu. AS merupakan negara pertama yang melakukan hal tersebut.

Setelah pengakuan kontroversial tersebut, Abbas memutuskan menarik Palestina dari perundingan damai dengan Israel yang di mediasi AS. Abbas menilai AS tak lagi menjadi mediator yang dapat diandalkan karena terbukti membela kepentingan Israel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement