Kamis 05 Apr 2018 09:00 WIB

Uni Emirat Arab Menentang Perang Dagang AS-Cina

Uni Emirate Arab menolak proteksionisme dalam perdagangan dunia.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Dubai. Ilustrasi
Foto: Ubergizmo
Dubai. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Wakil Menteri Perdagangan Luar Negeri di Kementerian Ekonomi Uni Emirate Arab (UEA), Abdullah Al Saleh mengatakan, Pemerintah UEA menentang proteksionisme dalam perdagangan global. Dia mendukung adanya ekonomi yang terbuka dan liberalisasi dalam perdagangan dunia.

"UEA selalu mendorong lebih banyak liberalisasi perdagangan dengan mendukung langkah-langkah untuk menghilangkan hambatan bagi perdagangan global, tetapi juga pada tingkat bilateral," ujar Al Saleh dilansir Xinhua, Kamis (5/4).

Menghapus hambatan perdagangan merupakan bagian dari kebijakan perdagangan terpadu dari Dewan Kerja Sama Teluk, di mana UEA adalah salah satu anggotanya. Al Saleh menilai, perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dapat memicu munculnya perang dagang dengan negara-negara besar lainnya. Menurutnya, proteksionisme tidak akan membawa kemakmuran bagi perekonomian nasional, regional, maupun global.

"Perekonomian yang terbuka adalah kebijakan terbaik untuk menarik investasi dan untuk meningkatkan daya saing, serta lebih baik bagi perdagangan masa depan," kata Al Saleh.

Al Saleh menjelaskan, UEA memiliki lebih dari 40 zona bebas untuk semua sektor industri. Zona bebas tersebut dibangun untuk menarik semua investor asing, termasuk Cina. Kementerian Ekonomi UEA mencatat, Cina merupakan mitra dagang utama bagi UEA selama tiga tahun berturut-turut yakni sejak 2014. Total perdagangan antara UEA dan Cina mencapai 141,74 miliar dolar AS hingga 2016.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement