Jumat 06 Apr 2018 11:22 WIB

Kian Banyak Pria Australia Pilih Peran Bapak Rumah Tangga

Sekitar 80 ribu keluarga di Australia memiliki ayah yang tinggal di rumah.

 Ayah rumah tangga, George, dengan kedua putrinya. (Disediakan: George Kanjere)
Ayah rumah tangga, George, dengan kedua putrinya. (Disediakan: George Kanjere)

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Penelitian terbaru dari lembaga Institut Studi Keluarga Australia menunjukan pria yang mengambil peran sebagai pengasuh utama dalam keluarga alias bapak rumah tangga jumlahnya semakin meningkat. Penelitian ini menunjukkan ada sekitar 80 ribu keluarga di Australia sekarang memiliki ayah yang tinggal di rumah sebagai pengasuh utama.

Meski secara keseluruhan jumlah ayah yang mengambil peran bapak rumah tangga jumlahnya masih rendah, namun keberadaan mereka diperkirakan telah meningkat dari 68.500 (4,2 persen) dari keluarga pasangan yang memiliki anak-anak pada tahun 2011 menjadi sekitar 80 ribu (4,6 persen) pada tahun 2016.

Berdasarkan data sensus ada 498.900 keluarga dimana ibu tinggal di rumah sebagai pengasuh utama. Direktur Institut Studi Keluarga Australia, Anne Hollonds mengatakan angka ini sebanding dengan negara-negara seperti AS dan Kanada.

Berikut beberapa fakta mengenai ayah rumah tangga di Australia:

* Ayah rumah tangga lebih cenderung hanya memiliki satu anak di rumah, dan anak itu cenderung lebih tua

* Ayah rumah tangga umumnya berusia lebih tua (43 tahun) daripada rata-rata ayah di keluarga dimana ibu yang mengurus urusan rumah tangga (38 tahun) - dan ayah dalam keluarga di mana kedua pasangan bekerja (41 tahun)

* Satu dari 10 ayah rumah tangga adalah mahasiswa

* Ada lebih banyak ayah rumah tangga yang bertugas menjadi pengasuh atau memiliki kecacatan

* Ayah rumah tangga cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah daripada ayah dalam keluarga pekerja ganda tetapi memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada ayah dalam keluarga yang menganggur.

* Ada persentase yang relatif tinggi dari ayah rumah tangga yang memiliki tingkat pencapaian pendidikan yang lebih rendah daripada pasangannya atau pasangan mereka, hal ini menunjukan orang tua memilih pengaturan ini karena ibu memiliki kapasitas penghasilan yang lebih besar

"Ayah rumah tangga adalah sebuah kelompok yang beragam termasuk ayah dengan kesehatan yang buruk, cacat atau yang tidak bekerja, serta mereka yang memilih untuk tinggal di rumah untuk merawat anak-anak," kata Anne Hollonds.

"Mereka memilih terlibat dalam peran ini karena berbagai alasan dan keluarga mereka umumnya tidak sama dengan keluarga dengan ibu yang tinggal di rumah, semata karena peran utamanya telah terbalik.

"Dibandingkan dengan ibu rumah tangga, bapak yang menjadi pengurus rumah tangga cenderung berusia lebih tua, dengan anak yang berusia lebih tua."

Ayah dari dua anak, Rhys Allen mengambil cuti untuk mengasuh anak pertamanya, dan kemudian memutuskan untuk menjadi ayah rumah tangga setelah anak keduanya lahir. Dia mengatakan dia berpikir banyak laki-laki kehilangan bagian awal kehidupan anak-anak mereka.

"Jika hanya karena kebiasaan dan tradisi yang menghentikan Anda, maka saya benar-benar mempertimbangkan [menjalani peran ini] karena ini adalah pengalaman terbaik  yang dapat dimiliki seorang pria menurut saya.”

"Peran [Ayah rumah tangga adalah] sangat istimewa untuk bisa berada di sekitar anak-anak yang masih kecil dan menonton mereka tumbuh.

"Anda tahu, Saya pikir  begitu banyak orang yang kehilangan pengalaman dari kehidupan anak-anak mereka di waktu kecil."

Ayah rumah tangga Photo: Ayah rumah tangga, Rhys Allen bersama kedua anaknya. (Disuplai oleh Rhys Allen)

Stereotipe menjadi kendala

Peneliti senior di Institut Studi Keluarga Australia, Dr Jennifer Baxter, mengatakan ada banyak alasan mengapa sangat sedikit pria yang memilih menjadi pengasuh utama. "Kita masih memiliki stereotip gender yang sangat kuat di sekitar pengasuhan anak yang tidak diragukan lagi membuat sulit bagi beberapa pria," katanya.

Dr Baxter juga mengatakan, lebih banyak keluarga kini memiliki kedua orang tua yang bekerja dan membutuhkan keluwesan untuk bisa menyiasati pekerjaan mereka dan tanggung jawab pengasuhan anak. "Ketika kita melihat penelitian terhadap kalangan ibu, kita tahu bahwa ibu mendapatkan banyak pekerjaan, bukan hanya karena pendapatan. Tapi juga mendapatkan kesenangan dan status dan stimulasi dari pekerjaan," tuturnya.

"Para ayah juga sama dan sehingga kami tidak perlu berharap melihat peningkatan besar-besaran di kalangan ayah yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk tidak mengasuh anak-anak. Apa yang ingin kami lihat, adalah [para ayah] mengambil pengaturan kerja yang lebih fleksibel, mengurangi jam kerja mereka sedikit," ujarnya menambahkan.

Salah seorang direktur Kelompok Peneliti di Bidang Perempuan, Pekerjaan dan Kepemimpinan di University of Sydney Business School, Profesor Rae Cooper, mengatakan stereotip gender menjadi kendala beberapa pria menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

"Meskipun kita memiliki beberapa perubahan dalam tenaga kerja di sekitar harapan apa yang dapat kami akses dalam hal fleksibilitas, sayangnya segala sesuatunya masih bergerak sangat, sangat lambat dan tidak bisa menyamai kecepatan perubahan sikap kami dan harapan dan impian kami tentang apa yang dapat kita akses di lingkungan pekerjaan.”

Dr Baxter mengatakan kebijakan pekerjaan dapat mendukung keluarga yang ingin menempuh jalur ini dengan memberikan kesempatan bagi para ayah untuk mengambil waktu cuti dari pekerjaan atau memanfaatkan pengaturan kerja yang fleksibel.

"Bahkan jika kebijakan semacam itu tidak mengakibatkan ayah mengambil periode waktu cuti yang panjang dari pekerjaan, atau jika mereka mengakibatkan ayah harus mengurangi jam kerjanya ketimbang meninggalkan pekerjaannya sama sekali, mereka mengirim sinyal bahwa itu dapat diterima bagi ayah untuk mengubah pengaturan kerja mereka dengan mengambil peran bersama dalam pengasuhan, "katanya.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-06/kian-banyak-ayah-rumah-tangga/9624482
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement