Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Paus Francis Sesalkan Serangan Gas Beracun di Douma

Ahad 08 Apr 2018 18:46 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Citra Listya Rini

Paus Francis

Paus Francis

Foto: ap
Paus Francis menyerukan adanya negosiasi untuk menyelesaikan perselisihan.

REPUBLIKA.CO.ID, KOTA VATIKAN -- Paus Francis menyesalkan terjadinya serangan gas beracun yang diduga senjata kimia di Douma, Suriah. Menurut dia, serangan tersebut sangat tidak dapat dibenarkan.

"Tidak ada yang namanya perang yang baik dan perang yang buruk. Tidak ada apa pun dapat membenarkan penggunaan instrumen pemusnahan semacam itu pada orang-orang dan penduduk yang tak berdaya," kata Paus Francis seusai melaksanakan misa di Lapangan Santo Petrus, Ahad (8/4).

Ia mendesak, para pemimpin politik dan militer yang terlibat dalam konfrontasi di Suriah mengambil opsi lain guna menyelesaikan perselisihan. Menurut Paus Francis, negosiasi merupakan satu-satunya yang dapat membawa perdamaian, bukan kematian dan kehancuran.

Serangan gas beracun terjadi di Douma, Ghouta Timur, Suriah, Sabtu (7/4) malam waktu setempat. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 49 orang. Douma merupakan wilayah yang masih dikuasai kelompok pemberontak Suriah.

Pemerintah Suriah disebut bertanggung jawab atas serangan terbaru di Douma. Namun, Damaskus telah membantah tegas tuduhan tersebut. Bantahan juga dinyatakan oleh sekutu Suriah, yakni Rusia.

"Kami jelas membantah informasi ini (serangan senjata kimia di Douma)," ujar Kepala Pusa tPerdamaian dan Rekonsiliasi Rusia di Suriah Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko.

Ia mengatakan, akan membuktikan bahwa informasi terkait serangan senjata kimia diDouma adalah keliru dan menyesatkan.

"Kami dengan ini mengumumkan bahwa kami siap mengirim ahli Rusia dalam bidang radiasi, pertahanan kimia, dan biologi untuk mengumpulkan informasi, segera setelah Douma dibebaskan dari milisi. Ini akan mengonfirmasi sifat palsu dari laporan ini," kata Yevtushenko.

Ini bukan pertama kali pemerintah Suriah dituding menggunakan senjata kimia. Pada Januari lalu, beredar laporan yang menyatakan pemerintah Suriah masih memanfaatkan senjata kimia untuk menyerang Ghouta Timur.

Pada Agustus 2015, Dewan Keamanan PBB membentuk MIB. Hal ini dilakukan setelah terbitnya laporan tentang penggunaan senjata kimia di Suriah. Dalam laporan akhir tahunlalu, MIB menyalahkan rezim pemerintah Suriah atas serangan senjata kimia yangterjadi di Khan Sheikhoun.

Dalam peristiwa tersebut, sedikitnya 100 wargaSuriah, termasuk anak-anak, tewas akibat menghirup gas beracun. Laporan tentang penggunaan senjata kimia di Suriah memang terus bermunculan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA