Selasa 24 Apr 2018 06:15 WIB

20 Orang Tewas Akibat Serangan Udara di Yaman

Serangan udara yang mematikan itu terjadi di saat mereka menghadiri pesta pernikahan.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Andi Nur Aminah
Situasi konflik di Yaman
Foto: VOA
Situasi konflik di Yaman

REPUBLIKA.CO.ID, YAMAN -- Sedikitnya 20 orang yang sedang menghadiri sebuah acara pernikahan meninggal dunia akibat sebuah serangan udara. Dokter dan penduduk sekitar mengatakan ada lebih dari 30 orang terluka akibat serangan yang terjadi Ahad (22/4) malam di distrik Bani Wais.

Gerakan pemberontak Houthi menyalahkan serangan tersebut merupakan gerakan koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman dalam perang saudara tiga tahun di negara tersebut. Sementara juru bicara koalisi yang dimaksud menyatakan laporan serangan ini sepenuhnya akan diselidiki.

Dilansir BBC, pihak koalisi menegaskan pihaknya tidak pernah dengan sengaja menargetkan warga sipil. Namun demikian kelompok hak asasi manusia telah menuduh mereka melakukan pengeboman pasar, sekolah, rumah sakit, dan area pemukiman.

The Houthis Al-Masirah TV melaporkan bahwa pesawat tempur dua kali melakukan penyerangan di pesta pernikahan di desa al-Raqa yang dikuasai pemberontak dan berjarak 90 km barat laut ibu kota Sanaa. Dalam laporan tersebut juga disebut korban tewas menjadi 33 orang dan menayangkan sebuah gambar dimana seorang anak laki-laki tergeletak di sebelah tubuh seorang lelaki dan menjerit serta menangis ketika tim penyelamat mencoba membantu.

Kepala Rumah Sakit Republik di Hajja menyatakan kepada Reuters pada Senin (23/4) mereka menerima 40 mayat. Sebanyak 46 terluka termasuk didalamnya 30 anak-anak. Salah satu perwakilan dari RS Khaled al-Nadhri menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak yang saat kejadian berkumpul di salah satu tenda. Pengantin perempuan termasuk di dalamnya.

Menurut PBB, lebih dari 5.970 warga sipil tewas dan 9.490 terluka sejak koalisi ikut campur dalam konflik antara Houthi dan pasukan setia Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi terjadi Maret 2015. Pertempuran dan blokade parsial sendiri menyebabkan 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, menciptakan keadaan darurat keamanan pangan terbesar di dunia, dan menyebabkan wabah kolera diperkirakan telah mengenai satu juta orang.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement