Rabu 25 Apr 2018 00:30 WIB

Facebook Terancam Krisis Akibat Skandal Cambridge Analytica

Skandal itu, telah dikaitkan dengan kampanye Brexit dan Trump

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Bilal Ramadhan
Jutaan data dari akun Facebook digunakan oleh Cambridge Analytica
Foto: Reuters/Dado Ruvic
Jutaan data dari akun Facebook digunakan oleh Cambridge Analytica

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Facebook dinilai sedang berada dalam krisis atas skandal penyalahgunaan data. Perusahaan media sosial itu masih berjuang untuk menghadapi dampak dari skandal Cambridge Analytica, yang muncul di tengah-tengah tuduhan tentang penyalahgunaan data pribadi paling banyak orang.

Skandal itu, telah dikaitkan dengan kampanye Brexit dan Trump. Facebook dipaksa untuk menanggapi kritik terhadap praktik bisnisnya dengan memposting serangkaian artikel online, di mana mereka membela diri dalam berbagai cara yang berbeda.

Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu dipaksa untuk mengakui telah mengumpulkan data iklan dengan melacak orang-orang di dalam Facebook. Pernyataan Krisis itu justru muncul dari Alexandr Kogan, peneliti yang mengambil data pengguna Facebook dan memberikannya ke Cambridge Analytica.

''Perusahaan ini dalam mode krisis di atas kejatuhan dari skandal itu, dan ingin menggunakan PR (Public Relation) untuk menghentikannya penyebaranya,'' kata Kogan di hadapan kongres Amerika.

Kogan dituduh menciptakan sebuah aplikasi yang digunakan untuk memanen data tentang jutaan pengguna dan kemudian menggunakannya untuk mempengaruhi kampanye pemilihan. Dia mengatakan, ribuan pengembang lain melakukan hal yang sama, dan pengguna Facebook telah memiliki data untuk ditambang.

Dia menduga, Facebook ingin menyalahkan salah satu pengembang nakal, karena itu adalah cara mudah untuk membatasi penyebaran krisis yang sedang berkembang. Menurut dia, Facebook menyadari platform mereka telah ditambang dari berbagai sisi oleh ribuan orang lain.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement