REPUBLIKA.CO.ID, RABAT -- Pemerintah Maroko segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Hal itu dilakukan lantaran dukungan Teheran kepada gerakan independen di bagian barat gurun Sahara, Kelompok Polisario.
Maroko menuding Iran bersama Hizbullah telah melakukan pelatihan militer sekaligus mempersenjatai kelompok tersebut. Pemerintah Maroko mengaku memiliki bukti atas keterlibatan Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon dengan Kelompok Polisario.
Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita mengatakan, mengacu pada bukti yang ada, Iran memberikan bantuan finansial dan logistik kepada kelompok tersebut. Bantuan dilakukan melalui kedutaan besar mereka yang berada di Ibu Kota Aljazair, Aljir.
Bourita mengatakan, akan segera menutup kedutaan besar Maroko di Tehran. Maroko juga akan segera memulangkan Duta Besar Iran. Dia mengatakan, bukti-bukti akan keterlibatan mereka juga akan diserahkan kepada pemerintah Iran. Bukti menyertakan pengiriman senjata.
"Maroko tidak memiliki pilihan lain selain memutus hubungan diplomatik dan menutup kedutaan besar Iran," kata Nasser Bourita seperti diwartakan Aljazirah, Rabu (5/2).
Bourita mengungkapkan, baru-baru ini Iran kembali memasok persenjataan kepada Kelompok Polisario yang diperantarai oleh kelompok Hizbullah. Dia memaparkan, persenjataan yang diberikan berupa pelontar rudal SAM9 dan SAM11 serta roket Strela.
Belum ada respon dari pemerintah Iran terkait keputusan tersebut. Mereka juga belum memberikan tanggapan terkait tuduhan yang dilontarkan pemerintan Maroko terkait keterlibatan dengan Kelompok Polisario.
Sementara dalam pernyataan resmi, Hizbullah membantah telah melakukan pelatihan militer dan mempersenjatai Kelompok Polisario. Mereka menyebut jika keputusan yang diambil pemerintah Maroko telah mendapat tekanan dari Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi.