Senin 07 May 2018 12:24 WIB

OKI Ingin Lebih Berperan Atasi Masalah Rohingya

OKI akan bertindak di tingkat internasional dan regional terkait isu Rohingya.

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nur Aini
Pengungsi Muslim Rohingya melintasi sungai Naf di perbatasan Myanmar-Bangladesh, untuk menyelematkan diri mereka dari genosida militer Myanmar. (foto file)
Foto: AP/Bernat Armangue
Pengungsi Muslim Rohingya melintasi sungai Naf di perbatasan Myanmar-Bangladesh, untuk menyelematkan diri mereka dari genosida militer Myanmar. (foto file)

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berjanji akan memperkuat peran mereka terkait nasib minoritas muslim Rohingya. Sekretaris Jenderal OKI Yousef bin Ahmad al-Othaimeen juga telah meminta negara anggota untuk membela isu-isu terkait Rohingya.

"Kami menegaskan komitmen OKI untuk terus bertindak di semua tingkatan internasional dan regional untuk mendukung gerakan terkait Rohingya," kata Yousef bin Ahmad al-Othaimeen di Dhaka, Bangladesh seperti dilansir laman Aljazirah, Senin (7/5).

Al-Othaimeen mengatakan, OKI mengaku menyesal tidak bertindak lebih cepat terkait permasalahan yang menimpa etnis Rohingya.  Apalagi, dia mengatakan, OKI merupakan organisasi yang melabeli dirinya sebagai suara kolektif dunia muslim.

Hampir 700 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Mereka kabur guna menghindari tindak kekerasan, pemerkosaan ,hingga pembantaian yang dilakukan militer Myanmar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lantas menilai tindak kekerasan yang dilakukan militer itu merupaan sebuah upaya pembersihan etnis. Penilaian itu didapat setelah tim khusus PBB melakukan investigasi dan mewawancarai para korban kekerasan yang mengungsi ke Cox Bazar, Bangladesh.

"Kami berjanji akan memainkan peran yang lebih terkait Rohingya bersama pemerintah Bangladesh, PBB, dan komunitas internasional," kata Asisten Sekretaris Jendral untuk isu Kemanusiaan OKI Hesham Youseff.

Konferensi tingkat menteri luar negeri OKI juga akan membentuk komite yang bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap Rohingya. Komite itu nantinya juga bertugas untuk mengumpulkan informasi dan bukti dari tindakan yang mengganggu masyarakat dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement