Selasa 08 May 2018 06:52 WIB

Inggris Minta AS tak Tarik Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran

Presiden AS Donald Trump disebut-sebut akan menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Fasilitas nuklir di Bushehr, Iran baratdaya.
Foto: AP
Fasilitas nuklir di Bushehr, Iran baratdaya.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran. Ia menilai, kendati kesepakatan tersebut dinilai tak sempurna, namun tak ada alternatif lain saat ini.

"Pada titik yang rumit ini, akan keliru jika meninggalkan kesepakatan nuklir dan menghapus pengekangan yang ada di Iran," ungkap Johnson pada Senin (7/5).

Ia mengatakan, dengan kesepakatan saat ini, inspektur Badan Energi Atom Internasional memiliki kekuatan ekstra untuk memantau fasilitas nuklir Iran. Dengan demikian, mereka akan memiliki keleluasaan untuk melihat setiap kemungkinan upaya Iran dalam membangun senjata nuklir.

"Sekarang borgol-borgol ini sudah ada, saya melihat tidak ada keuntungan yang mungkin dalam menyingkirkan mereka. Hanya Iran yang akan mendapatkan (keuntungan) dari pencampakan pembatasan program nuklirnya," kata Johnson menerangkan.

Ia meyakini dengan mempertahankan kesepakatan nuklir, hal tersebut akan menghalau perilaku agresif Iran di kawasan. "Saya yakin satu hal, setiap alternatif yang tersedia lebih buruk. Yang paling bijaksana adalah mempertahankan borgol daripada mematahkannya," ujarnya.

Presiden AS Donald Trump disebut-sebut akan menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran. Keputusan resmi apakah AS bertahan atau hengkang dari kesepakatan tersebut rencananya akan diumumkan Trump pada Selasa (8/5).

Sejak menjabat sebagai presiden AS, Trump memang telah mencela kesepakatan nuklir Iran. Ia menganggap kesepakatan tersebut adalah sebuah kesalahan besar yang dilakukan pada era pemerintahan Barack Obama.

Trump pun telah berulang kali memperingatkan bahwa AS akan hengkang dari kesepakatan tersebut. Ia mengklaim Iran telah melanggar kesepakatan dengan mengembangkan senjata nuklir berbahaya.

Kesepakatan nuklir Iran ditandatangani Iran bersama Prancis, Inggris, AS, Jerman, Cina, Rusia, dan Uni Eropa pada Oktober 2015. Kesepakatan ini mulai berlaku atau dilaksanakan pada 2016.

Kesepakatan ini tercapai melalui negosiasi yang panjang dan alot. Tujuan utama dari kesepakatan ini adalah memastikan bahwa penggunaan nuklir oleh Iran hanya terbatas untuk kepentingan sipil, bukan militer. Sebagai imbalannya, sanksi ekonomi dan embargo yang dijatuhkan terhadap Teheran akan dicabut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement