Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Saturday, 23 Zulhijjah 1440 / 24 August 2019

Iran akan Lanjutkan Kesepakatan Nuklir Tanpa AS

Rabu 09 May 2018 18:27 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nur Aini

Presiden Iran Hassan Rouhani

Presiden Iran Hassan Rouhani

Foto: Iranian Presidency Office via AP
Iran akan berunding dengan Eropa terkait nuklir tanpa mengikutsertakan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHRAN -- Presiden Iran Hassan Rouhani mengaku siap mengadakan perundingan nuklir dengan negara-negara Eropa tanpa mengikutsertakan Amerika Serikat (AS). Pernyataan Rouhani dilontarkan menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menarik diri dari kesepakatan nulir.

Hassan Rouhani telah memerintahkan sejumlah diplomat untuk melakukan negosiasi dengan negara-negara Eropa yang ikut dalam perjanjian tersebut. Rouhani juga telah menugaskan hal serupa kepada diplomat untuk melakukan pembicaraan dengan Cina dan Rusia.

Dia mengatakan, kesepakatan nuklir atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tetap akan mampu bertahan tanpa ikut serta AS. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif akan memimpin langsung diplomasi kepada sisa negara yang bersepakat dalam pakta tersebut.

Di saat yang bersamaan, Rouhani mengatakan, Iran siap meningkatkan pengayaan uranium mereka melebihi batas yang diperbolehkan dalam kesepakatan. Hal itu akan dilakukan kjika ebutuhan Iran tidak dapat terpenuhi.

"Kami akan memutuskan dalam beberapa pekan ke depan terkait peningkatan level pengayaan uranium," kata Hassan Rouhani seperti diwartakan Washington Post, Rabu (9/5).

Rouhani mengatakan jika dalam jangka pendek Iran merasa permintaan mereka terpenuhi dalam perjanjian itu maka kesepakatan akan tetap dilanjutkan. Menurutnya, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka Iran siap memerintahkan Badan Atom Nasional untuk melakukan pengayaan uranium tanpa batas.

Presiden Trump memutuskan untuk segera memberlakukan kembali sanksi ekonomi kepada Iran terkait program nuklir mereka. Sanksi itu termasuk di dalamnya perdagangan minyak Iran dan dunia perbankan negara. Kedua hal itu merupakan aspek kunci yang memaksa Iran menyetujui kesepakatan JCPOA pada 2015 lalu.

Sebelumnya, AS memutuskan untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran. Presiden Trump mengatakan, kesepakatan yang ada merupakan sebuah kesalahan besar yang pernah dibuat AS. Kesepakatan nuklir Iran disepakati oleh Inggris, Jerman, Prancis, Cina, Rusia, dan AS yang ditandatangani oleh mantan presiden Barrack Obama.

Pemerintahan Trump mengaku tetap membuka pintu negosiasi lain kepada sekutu Eropa. Namun belum diketahui pasti respons negara-negara Eropa terkait hal tersebut. Eropa menilai, pakta yang berlaku saat ini merupakan kesepakatan paling efektif untuk menekan program nuklir Iran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA