Jumat 01 Jun 2018 00:16 WIB

Ekspansi Perusahaan Tambang Ditolak Demi Selamatkan Kepiting

Satwa liar termasuk kepiting merah dikhawatirkan terganggu dengan tambang fosfat.

Red: Nur Aini
Kepiting bakau
Foto: Dok IPB
Kepiting bakau

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Masyarakat Pulau Christmas bisa menghadapi kehilangan ratusan pekerjaan setelah usulan untuk memperluas tambang fosfat di pulau itu ditolak kembali. Hal itu karena kekhawatiran dampaknya terhadap satwa liar di pulau itu, termasuk kepiting merah yang terkenal di dunia.

Phosphate Resources Limited telah menambang di pulau di Samudera Hindia itu selama lebih dari 100 tahun. Namun, mereka mengklaim perlu membersihkan lebih banyak tanah mahkota untuk mengakses deposit baru agar operasi tetap berjalan. Dengan ekspansi, perusahaan ingin membersihkan tambahan 6,83 hektare lahan untuk melakukan pengeboran eksplorasi.

 

Pemerintah lokal mendukung proposal, dengan alasan ekonomi dan populasi pulau itu bisa menghadapi keruntuhan jika ekspansi tidak dilanjutkan. Ketika melobi untuk ekspansi tambang Juli lalu, Presiden Christmas Island Shire Gordon Thomson mengatakan Pemerintah Federal perlu segera menyetujui pembukaan lahan atau risiko penutupan tambang dan hilangnya 250 pekerjaan.

"Kegiatan ekonomi tidak ada, kecuali untuk layanan pemerintah, jika tambang ditutup," kata Thomson.

 

"Kota ini adalah kota pekerja. Industri dimana masyarakat kami dibangun adalah industri pertambangan fosfat."

Pemerintah Federal menolak proposal tersebut, dengan menyimpulkan perluasan operasi penambangan akan memiliki dampak "signifikan dan tidak dapat diterima" terhadap lingkungan "unik dan tak tergantikan" pulau itu. Pulau tersebut adalah rumah bagi banyak tumbuhan dan hewan langka termasuk jutaan kepiting merah yang bermigrasi ke laut setiap tahun untuk bertelur.

 

Migrasi tahunan kepiting telah ditampilkan dalam dokumenter tentang alam yang tak terhitung jumlahnya. Kepiting itu telah disorot oleh Sir David Attenborough sebagai salah satu pemandangan alam yang paling menakjubkan.

Pulau Christmas juga menjadi tuan rumah bagi pakis gua yang terancam punah dan spesies burung terancam punah, Abbott's booby. Rumah hutan hujannya di pulau ini dianggap sebagai satu-satunya habitat bersarang yang tersisa di dunia.

 

"Ada juga ancaman yang sangat nyata bahwa pola pembersihan ini akan memungkinkan masuknya spesies gulma agresif dengan kapasitas untuk membanjiri tanaman asli dan mengubah struktur hutan di sekitarnya," kata Menteri Lingkungan Hidup Josh Frydenberg dalam sebuah pernyataan.

Keputusan itu muncul setelah Pemerintah Federal pindah untuk menutup Pusat Penahanan Pulau Natal, yang menyebabkan hilangnya pekerjaan lokal. Perusahaan telah dihubungi untuk dimintai komentar.

 

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-31/perluasan-tambang-ditolak-demi-kepiting/9821202
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement