Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Sampah Plastik Asia Tenggara Kotori Samudera di Dunia

Kamis 07 Jun 2018 00:10 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Ani Nursalikah

Sampah Pantai. Tumpukan sampah plastik disepanjang pantai. ilustrasi

Sampah Pantai. Tumpukan sampah plastik disepanjang pantai. ilustrasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Indonesia negara kedua setelah Cina yang menghasilkan sampah plastik terbesar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Saat istirahat makan siang, Chinapa Payakha (34 tahun) keluar dari sebuah toko 7-Eleven dengan dua kantong plastik. Pekerja kantoran di Bangkok ini memegang minuman ringan berbahan plastik dan membawa makan siang yang juga dibungkus dengan plastik.

"Untuk kehidupan kantoran, tas plastik sangat diperlukan," kata Chinapa, yang mengaku memiliki kebiasaan berbelanja dengan kantong plastik.

Saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia pada Selasa (5/6), PBB menyerukan aksi pembersihan besar-besaran terhadap polusi plastik. Para pakar mengatakan, negara-negara Asia Tenggara menjadi pengguna plastik terbesar yang mencemari samudera-samudera di dunia.

Dari kota-kota besar seperti Bangkok dan Jakarta, hingga sejumlah resor pantai di Filipina dan Vietnam, pencemaran kantong dan botol plastik telah menjadi pemandangan yang biasa. Menurut Environment Programme PBB, secara global sekitar delapan juta ton plastik dibuang ke laut setiap tahunnya, membunuh kehidupan di laut, dan memasuki rantai makanan manusia.

Lima negara di Asia, yaitu Cina, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand, tercatat menyumbang hingga 60 persen dari sampah plastik yang bocor ke laut. Angka ini berdasarkan laporan Ocean Conservancy dan McKinsey Center for Business and Environment pada 2015.

"Kelima negara itu tengah menghadapi ledakan permintaan untuk produk konsumen, tetapi tidak memiliki infrastruktur pengelolaan limbah untuk mengatasi lonjakan sampah plastik," tulis laporan itu.

Direktur pelaksana Ocean Conservancy untuk inisiatif internasional, Susan Ruffo, mengatakan di tahun ini Pulau Bali di Indonesia berada dalam keadaan darurat sampah. Filipina bahkan menutup pulau wisata Boracay karena menghasilkan pencemaran limbah ke laut.

"Tetapi ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perusahaan, masyarakat sipil, dan warga negara memiliki peran masing-masing," ungkap Ruffo.

Geoff Baker, juru kampanye anti-plastik dari Grin Green International, mengatakan Thailand menghasilkan dua juta ton sampah plastik dalam setahun. Menurutnya, penggunaan plastik telah menjadi candu.

"Ke mana pun Anda pergi, mereka akan memberikan plastik pada Anda," kata Baker.

Ia sendiri telah menyebabkan kehebohan di media sosial pada April lalu, ketika menutupi dirinya dengan 700 kantong plastik sambil berjalan ke 7-Eleven, dan menatap tidak setuju pada orang yang membeli pisang yang dibungkus plastik.

Kematian seekor paus pilot akibat memakan 80 sampah plastik baru-baru ini juga telah menjadi berita utama di media-media lokal Thailand. Akan tetapi berita itu ternyata lebih menarik perhatian luar negeri.

Watcharapon Prabsangob (28), seorang insinyur di Bangkok, mengatakan perusahaan harus berbuat lebih banyak untuk menghentikan pemberian kantong plastik kepada pelanggan. CP All, yang memiliki lebih dari 10 ribu toko 7-Eleven di seluruh Thailand, pada Selasa (5/6) mengatakan akan meluncurkan kampanye pengurangan kantong plastik di beberapa toko di Provinsi Satun. Kampanye ini sebagai bagian dari kampanye pariwisata hijau.

Namun perusahaan itu tidak menyebutkan 76 provinsi lainnya, termasuk Bangkok. Di Bangkok, 10 juta penduduknya tercatat menggunakan 80 juta kantong plastik dalam sehari.

Sementara itu, Indonesia telah menjanjikan dana 1 miliar dolar AS per tahun untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70 persen pada 2025. Indonesia menjadi negara kedua setelah Cina yang menghasilkan sampah plastik terbesar.

Ada beberapa upaya untuk mengenakan pajak pada kemasan plastik guna membantu mengatasi masalah sampah. Namun Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto telah menentang langkah-langkah pajak itu dan mengatakan hal tersebut akan merugikan industri makanan dan minuman lokal.

Filipina, seperti negara-negara tetangganya, tidak memberlakukan larangan nasional atas penggunaan kantong plastik. Akan tetapi beberapa pusat perbelanjaan telah mengganti plastik dengan kantong kertas dan menyerukan penggunaan tas yang dapat digunakan kembali.

Di Malaysia, Menteri Perumahan Baru Zuraida Kamaruddin mengatakan dalam sebuah wawancara dengan situs berita lokal Malaysiakini, dia ingin memperkenalkan larangan nasional penggunaan kantong plastik di tahun ini.

Juru kampanye Greenpeace di Asia Tenggara, Anchalee Pipattanawattanakul, mengatakan kawasan ASEAN membutuhkan strategi yang terkoordinasi dalam mengatasi masalah limbah plastik. "ASEAN mengatakan masalah ini perlu ditangani. Tetapi tidak ada rencana aksi yang benar-benar dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik," ujarnya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA